Pembelajaran Matematika Dikembangkan Lewat Etnomatematika Sunda dan AR
Lima puluh tiga guru dari lima sekolah dasar di Kota Cimahi mengikuti program pengembangan pembelajaran numerasi yang memadukan etnomatematika budaya Sunda dan teknologi Augmented Reality (AR). Program yang dipimpin Universitas Bhayangkara Jakarta Raya ini menggunakan permainan tradisional seperti congklak, engklek, dan pola anyaman untuk mengaitkan konsep matematika dengan lingkungan siswa. Tahap berikutnya meliputi pengembangan modul ajar dan media AR untuk penerapan di kelas serta evaluasi melalui tes kemampuan numerasi dan forum refleksi bersama guru.
Poin-Poin Utama
- 53 guru dari lima sekolah dasar di Kota Cimahi mengikuti program pengembangan pembelajaran numerasi.
- Program dilaksanakan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya melalui Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.
- Program didukung Dinas Pendidikan Kota Cimahi dan KKG Gugus Tirto Adhi Suryo.
- Tim pengabdian dipimpin Dian Anggraeni Maharbid bersama Sandi Budhi Iriawan dan Faridulat Ala.
- Mahasiswa pendamping program adalah Rifqah Nur Alvisyahri dan Michelle Miranda.
- Rata-rata kompetensi pedagogis guru mencapai 76,8 persen berdasarkan lima indikator.
- Kemampuan asesmen formatif dan scaffolding masih perlu diperkuat.
- Tim menyusun 30 rancangan awal pembelajaran berbasis etnomatematika.
- 13 QR 3D marker disiapkan sebagai bahan pengembangan media AR.
- Objek budaya Sunda yang digunakan meliputi congklak, engklek, galah asin, pola anyaman, dan arsitektur tradisional.
- 89 persen guru memiliki smartphone yang mendukung aplikasi AR.
- 73 persen sekolah mitra memiliki akses internet.
- Pelatihan dan workshop dijadwalkan pada akhir Agustus 2026.
- Rancangan pembelajaran mencakup operasi hitung, geometri bangun datar, pengukuran, serta simetri dan pola.
- Evaluasi dilakukan melalui tes kemampuan numerasi siswa, angket minat belajar, dan evaluasi kualitas produk.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.