Beranda Sabtu, 19 September 2026

!online

Ekonomi Netral

Akuakultur Indonesia Kunci Krisis Pangan dan Energi Dunia

Sabtu, 19 September 2026, 11:10 WIB Sumber: Media Indonesia
Ukuran:

Data FAO 2026 mencatat akuakultur telah menyumbang 53% produksi hewan akuatik global, menjadikan sektor ini mesin pertumbuhan utama pangan dunia. Indonesia memiliki potensi ekonomi akuakultur US$210 miliar per tahun dari tiga zona budidaya (laut, pesisir, air tawar), namun pemanfaatan baru mencapai 18,40% dengan alokasi kredit perikanan hanya 0,35%. Prof. Rokhmin Dahuri mengusulkan konsep Tropical Ecological Marine Ranching (TEMR) sebagai solusi untuk memaksimalkan potensi akuakultur Indonesia yang selama ini "menganggur" sebesar Rp3.000 triliun.

Poin-Poin Utama

  • FAO 2026 mencatat produksi perikanan dan akuakultur global menembus 235 juta ton.
  • Akuakultur menyumbang 53% hewan akuatik global dan 59% pangan hewan akuatik untuk pertama kalinya.
  • Sektor perikanan tangkap mulai mengalami stagnasi secara global.
  • Potensi ekonomi akuakultur Indonesia ditaksir mencapai US$210 miliar per tahun.
  • Zona Marikultur mencakup 24 juta hektar dengan potensi produksi 60 juta ton per tahun.
  • Zona Pesisir mencakup 3 juta hektar dengan potensi produksi 34,36 juta ton per tahun.
  • Zona Air Tawar mencakup 2 juta hektar dengan potensi produksi 5,7 juta ton per tahun.
  • Pasokan mutiara laut selatan Indonesia menyumbang 43% dari total kebutuhan dunia.
  • Bioteknologi kelautan diprediksi bernilai empat kali lipat lebih besar dari industri semikonduktor global.
  • Bioteknologi kelautan mampu menghasilkan 12 produk akhir mulai dari pangan fungsional hingga biofuel.
  • Evergen di Kendal memproduksi 500 kg astaxanthin per bulan untuk pasar Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.
  • ALBITEC di Semarang memproduksi 500 kg spirulina per bulan menggunakan energi terbarukan.
  • Jejak karbon protein ikan 5 hingga 10 kali lebih rendah dibandingkan daging merah.
  • Pemanfaatan potensi akuakultur Indonesia baru mencapai 18,40% pada 2025.
  • Suku bunga pinjaman bagi nelayan dan pembudidaya Indonesia mencapai 8,8%, tertinggi ke-2 di ASEAN.
Tagar Terkait
#ekonomi biru#perikanan#akuakultur#bioteknologi kelautan
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.

Buka Sumber di Media Indonesia

Warta Terkini Lainnya

Umum Netral

Berlari dan Berteman di The Tour

Kompas • 19 Sep, 12:03 WIB

The Tour menunjukkan bahwa lari bukan sekadar aktivitas olahraga, melainkan telah berkembang menjadi jejaring pertemanan dan ekosistem yang kuat di...