Survei: Mayoritas Warga Palestina dan Israel tak Lagi Percaya Solusi Dua Negara
Survei lembaga Pew Research Center menunjukkan mayoritas warga Palestina dan Israel tidak lagi percaya solusi dua negara bisa dicapai, dengan hanya 17 persen warga Israel dan 21 persen warga Palestina yang menyatakan yakin hidup berdampingan secara damai mungkin terjadi. Angka ini merupakan yang terendah dalam lebih dari satu dekade, didorong oleh perselisihan wilayah, kendali Israel atas Tepi Barat dan Yerusalem Timur, serta kekerasan yang terjadi setelah serangan 7 Oktober. Warga Israel menyoroti kekhawatiran keamanan, sementara warga Palestina menyebut pendudukan dan permukiman sebagai hambatan utama.
Poin-Poin Utama
- Survei dari lembaga Pew Research Center menemukan mayoritas warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur tidak lagi percaya solusi dua negara bisa dicapai.
- Sebanyak 17 persen warga Israel menyatakan yakin jalan menuju hidup berdampingan secara damai dapat ditemukan.
- Sebanyak 56 persen warga Israel berpendapat hidup berdampingan secara damai tidak mungkin dicapai.
- Sebanyak 21 persen warga Palestina menyatakan hidup berdampingan secara damai mungkin terjadi.
- Sebanyak 68 persen warga Palestina menyatakan hidup berdampingan secara damai tidak mungkin dilakukan.
- Hasil survei tahun 2026 mencatat angka terendah kepercayaan terhadap solusi dua negara dalam lebih dari satu dekade pengukuran Pew.
- Sebanyak 56 persen responden Israel secara tegas menyatakan hidup berdampingan secara damai adalah hal mustahil.
- Sebanyak 16 persen warga Israel keturunan Yahudi menyatakan solusi dua negara mungkin terwujud.
- Sebanyak 64 persen warga Israel keturunan Yahudi menyatakan solusi dua negara tidak mungkin terwujud.
- Sebanyak 46 persen warga Israel keturunan Arab menyatakan tidak tahu atau menolak menjawab pertanyaan mengenai solusi dua negara.
- Pew menyurvei 1.001 orang di Israel dan 1.038 warga Palestina di Tepi Barat serta Yerusalem Timur.
- Wawancara dengan warga Israel dilakukan pada 5 April hingga 6 Mei, sedangkan dengan warga Palestina pada 30 Maret hingga 28 April.
- Perbedaan pendapat mengenai wilayah menjadi alasan paling sering dikemukakan oleh kedua belah pihak yang menolak hidup berdampingan.
- Banyak warga Palestina menunjuk kendali Israel atas Tepi Barat dan Yerusalem Timur, permukiman, serta pos pemeriksaan sebagai hambatan utama.
- Banyak warga Israel keturunan Yahudi secara eksplisit menyebut serangan 7 Oktober sebagai titik kehilangan keyakinan terhadap solusi dua negara.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.