Siapa Elif Eralp? Politikus Bersinar Keturunan Turki di Jerman yang Mengidolakan Zohran Mamdani
Elif Eralp, aktivis hak asasi manusia keturunan Turki, meraih kemenangan bersejarah dalam pemilihan di Berlin dengan perolehan suara 25,7%, sehingga Partainya berpeluang menjadi wali kota Berlin pertama yang berlatar belakang migran. Kampanyenya berfokus pada tekanan ekonomi sehari-hari seperti lonjakan harga sewa dan biaya transportasi, dengan pendekatan yang banyak dibandingkan dengan keberhasilan Wali Kota New York Zohran Mamdani. Orang tua Eralp datang ke Jerman dari Turki setelah kudeta militer tahun 1980, dan ia memutuskan mempelajari hukum setelah menyaksikan ketidakadilan dan diskriminasi saat kecil.
Poin-Poin Utama
- Elif Eralp adalah aktivis hak asasi manusia keturunan Turki yang berpotensi menjadi wali kota Berlin pertama berlatar belakang migran.
- Partai Kiri (Die Linke) yang ia pimpin meraih 25,7% suara dalam pemilu hari Minggu.
- Perolehan suara tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tiga tahun lalu.
- Elektabilitas partai berada di kisaran belasan persen pada musim semi.
- Lonjakan suara dianggap sebagai bukti bahwa Eralp telah memenangkan kepercayaan warga Berlin.
- Eralp membandingkan kiprahnya dengan Zohran Mamdani, Wali Kota New York yang terpilih pada tahun 2025.
- Inti kampanyenya berfokus pada tekanan ekonomi sehari-hari berupa lonjakan harga sewa, kenaikan biaya transportasi, dan masalah pengangkutan sampah.
- Eralp mengusulkan pembatasan harga sewa untuk apartemen milik pemerintah kota Berlin.
- Ia mengusulkan pembentukan badan pemerintah untuk memerangi kenaikan harga sewa ilegal.
- Eralp mengusulkan pengambilalihan perusahaan perumahan besar menjadi milik publik.
- Orang tuanya pindah ke Jerman dari Turki setelah kudeta militer tahun 1980.
- Eralp lahir di Munich pada tahun 1981 dan tumbuh besar di Dortmund serta Hamburg.
- Ia telah tinggal di Berlin selama 16 tahun.
- Eralp memutuskan belajar hukum setelah menyaksikan ketidakadilan dan diskriminasi sejak kecil.
- Ia terdampak oleh gelombang kekerasan ekstremis sayap kanan yang menargetkan para migran di Jerman pada tahun 1990-an.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.