OJK: Transformasi digital keuangan harus jadi mesin produktivitas
OJK menekankan bahwa transformasi digital sektor keuangan harus diarahkan sebagai mesin produktivitas yang memperluas akses pembiayaan dan memberikan manfaat bagi sektor riil. Industri perbankan Indonesia memasuki 2027 dengan fondasi solid, namun menghadapi tantangan struktural yang kompleks secara bersamaan, mulai dari ancaman siber, perubahan regulasi, hingga kesenjangan talenta. Seminar nasional yang diselenggarakan IKA USU Jakarta mempertemukan pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi agar perbankan Indonesia semakin tangguh dan adaptif.
Poin-Poin Utama
- OJK menyatakan transformasi digital sektor keuangan harus menjadi mesin produktivitas.
- Kepala Eksekutif OJK Adi Budiarso menyampaikan pernyataan tersebut di Jakarta.
- Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,65 persen secara tahunan per Agustus 2026.
- Rasio permodalan perbankan tercatat 24,1 persen.
- Rasio kredit bermasalah perbankan sebesar 2,11 persen.
- Industri perbankan Indonesia memasuki 2027 dengan fondasi yang relatif solid.
- Tantangan struktural perbankan meliputi teknologi, ancaman siber, perubahan regulasi, ketidakpastian makroekonomi, ESG, dan kesenjangan talenta.
- Ikatan Alumni Universitas Sumatera Utara Jakarta menyelenggarakan Seminar Nasional pada tanggal 6 Oktober 2026.
- Seminar mempertemukan regulator, perbankan, fintech, akademisi, dan praktisi.
- Ketua IKA USU Jakarta Tujuh Martogi Siahaan menyatakan tantangan perbankan hadir secara bersamaan.
- Perbankan harus mampu mengantisipasi perubahan, tidak hanya beradaptasi.
- Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menekankan transformasi digital harus menghasilkan dampak ekonomi nyata.
- BTN mengembangkan Loan Factory dan Monoline Collection System.
- BTN menerapkan AI/OCR dan modernisasi Core Banking.
- Nilai sebenarnya transformasi terletak pada kemampuan memperluas akses pembiayaan dan menggerakkan sektor riil.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Antara News.