Pagi yang Hidup di Alun-Alun Sidoarjo
alun memiliki sejarah panjang sejak 1859 ketika Sidoarjo resmi menjadi kabupaten dan berkembang menjadi pusat pemerintahan, sosial, serta keagamaan bersama pendapa dan masjid. Revitalisasi alun-alun dinilai memadai oleh warga seperti Lucia Pungky untuk bermain anak dan interaksi sosial, meski masih ada kekurangan pepohonan yang membuat hawa panas terasa dan beberapa fasilitas yang mulai rusak.
Poin-Poin Utama
- Artikel ini ditulis pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
- Alun-alun Sidoarjo menjadi ruang publik yang ramai pada pagi hari.
- Pada 31 Januari 1859, Sidokare terpisah dari Kabupaten Surabaya dan menjadi kabupaten tersendiri.
- Nama Sidokare berubah menjadi Sidoarjo pada 28 Mei 1859.
- Raden Tumenggung Prawiro Tjokronegoro I adalah bupati pertama Sidoarjo.
- Pusat pemerintahan Sidoarjo dipindahkan ke kawasan Wates-Pucang pada masa pemerintahan bupati pertama.
- Kawasan alun-alun berkembang menjadi bagian penting tata kota Sidoarjo sejak abad ke-19.
- Alun-alun, pendapa kabupaten, dan masjid menjadi elemen berkaitan dalam pemerintahan, sosial, dan keagamaan.
- Hari bebas kendaraan bermotor di alun-alun berlangsung pada Minggu pagi.
- Alun-alun Sidoarjo telah direvitalisasi dengan arena bermain anak-anak dan ruang publik.
- Luci Pungky, seorang warga, mengaku terkesan dengan fasilitas alun-alun pascarevitalisasi.
- Kurangnya pepohonan menjadi catatan warga karena hawa panas terasa saat menjelang siang.
- Beberapa fasilitas di alun-alun mulai mengalami kerusakan.
- Alun-alun menjadi ruang pertemuan berbagai generasi, dari anak-anak hingga lansia.
- Warga memanfaatkan alun-alun untuk berolahraga, berekreasi, dan berinteraksi sosial.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.