Sederet Tantangan Membangun Infrastruktur di Indonesia
Artikel membahas tantangan pembangunan infrastruktur di Indonesia dalam satu dekade terakhir, yang menjadi prioritas nasional untuk mengurai ketimpangan wilayah dan transformasi sosial. Alokasi anggaran infrastruktur melalui APBN cenderung meningkat dari Rp 154,7 triliun pada 2014 menjadi Rp 434,8 triliun pada 2026, dengan capaian berupa peningkatan panjang jalan tol dari 780 km menjadi 3.128,30 km serta jumlah bendungan dari 150 menjadi 240 unit. Namun, efisiensi investasi Indonesia masih rendah dengan ICOR pada kisaran 5,8-6,5, lebih tinggi dibanding negara tetangga Asia Tenggara yang berada di bawah 4,5.
Poin-Poin Utama
- Indonesia prioritaskan pembangunan infrastruktur satu dekade terakhir untuk konektivitas dan pemerataan.
- Alokasi anggaran infrastruktur di APBN naik dari Rp 154,7 triliun (2014) ke Rp 422,7 triliun (2024).
- Anggaran infrastruktur tercatat Rp 400,3 triliun pada 2025.
- Anggaran infrastruktur naik Rp 34,5 triliun ke Rp 434,8 triliun pada 2026.
- RAPBN 2027 proyeksikan anggaran infrastruktur sebesar Rp 435,4 triliun.
- Panjang jalan tol naik dari 780 kilometer (2014) menjadi 3.128,30 kilometer (Agustus 2026).
- Jumlah bendungan meningkat dari 150 unit (2014) menjadi 240 unit beroperasi (2026).
- Daya saing global Indonesia peringkat ke-48 dari 70 negara versi IMD 2026.
- Sektor infrastruktur Indonesia peringkat ke-58 dunia.
- Di Asia Tenggara, Indonesia peringkat ke-5 di bawah Singapura (1), Malaysia (15), Vietnam (27), Thailand (30).
- ICOR Indonesia berkisar 5,8 hingga 6,5, lebih tinggi dari negara tetangga yang di bawah 4,5.
- Tantangan mencakup efisiensi logistik, daya saing industri, dan ketahanan fiskal jangka panjang.
- Pembangunan infrastruktur dituntut hadapi bencana, perubahan iklim, teknologi, dan kebutuhan masyarakat beragam.
- Kontribusi infrastruktur ditargetkan turunkan biaya logistik dan percepat pemerataan pembangunan.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.