Masa Depan AI, Kesadaran dan Keberagamaan Umat Manusia
Diskusi masa depan AI kini masuk ke wacana filosofis dan etis, dipicu pernyataan Geoffrey Hinton bahwa AI dapat memiliki kesadaran seperti manusia dan berpotensi mengubah pemahaman tradisional tentang jati diri manusia sebagai ciptaan Tuhan. Film The Creator (2023) menyajikan simulasi bagaimana kesadaran biologis dapat dikristalisasi menjadi data digital dan dipindahkan ke tubuh sintetis berbasis AI. Jika AI benar-benar memiliki kesadaran, dampaknya pertama kali dirasakan oleh umat beragama, karena konsep kesadaran terkait erat dengan dogma tentang jiwa sebagai substansi non-materi ciptaan Tuhan, sebagaimana perspektif Ibnu Sina dalam Ahwal an-Nafs.
Poin-Poin Utama
- Geoffrey Hinton, Godfather of AI, menyatakan AI sudah memiliki kesadaran seperti manusia.
- Hinton menyatakan dalam Big Technology Podcast bahwa AI sadar akan mengubah pemahaman jati diri manusia sebagai kreasi Tuhan.
- Film The Creator rilis tahun 2023 memuat prediksi evolusi kesadaran dari Sapiens ke AI.
- The Creator menggambarkan kesadaran otak diubah jadi data digital dan ditransmisikan dari tubuh biologis ke tubuh sintetis AI.
- Filsuf mendefinisikan kesadaran sebagai keadaan mental yang mampu merasakan, memahami, dan merespons stimulus.
- Perspektif Ibnu Sina dalam Ahwal an-Nafs menyebut jiwa sebagai substansi non-materi.
- Umat beragama memahami jiwa sebagai pusat kesadaran dan anugerah Tuhan, bukan produk manusia.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.