Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Khazanah Positif

Kemenhaj dan Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Selasa, 8 September 2026, 21:43 WIB Sumber: Republika
Ukuran:

Artikel ini merefleksikan pengalaman pribadi penulis sebagai jamaah haji (2019) dan petugas pendamping (2024), menekankan bahwa pelayanan haji adalah ibadah kemanusiaan yang menggabungkan dimensi spiritual dan kolektif. Kehadiran Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) pada 2026 membawa harapan baru melalui digitalisasi layanan, penguatan data, dan peningkatan standar konsumsi, akomodasi, serta transportasi yang mendapat apresiasi dari berbagai pihak termasuk DPR RI. Kesimpulannya, keberhasilan pelayanan haji tidak diukur dari statistik semata, melainkan dari rasa aman, dihormati, dan tenang jamaah dalam beribadah.

Poin-Poin Utama

  • Tahun 2026 menjadi babak baru sejarah penyelenggaraan haji Indonesia dengan kehadiran kementerian khusus yang menangani haji dan umrah.
  • Kemenhaj mendorong kualitas layanan melalui digitalisasi, percepatan proses keberangkatan, penguatan validasi data jamaah, dan peningkatan standar konsumsi, akomodasi, serta transportasi.
  • Tim Pengawas Haji DPR RI menilai pelayanan Haji 2026 lebih humanis, terutama untuk kelompok lanjut usia dan rentan.
  • Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 mengatur tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, termasuk pelimpahan porsi haji.
  • Penulis menunaikan ibadah haji pertama kali pada 2019 M / 1440 H melalui pelimpahan porsi dari ayah yang wafat.
  • Ayah penulis wafat di tahun keberangkatan haji setelah mendaftar pada 2010.
  • Penulis mendampingi ibunda berhaji ke Tanah Suci atas wasiat almarhum.
  • Penulis berpengalaman melayani jamaah pada 2024 M / 1445 H dengan mendampingi jamaah sebuah travel di Jakarta.
  • Pelayanan haji mencakup pengaturan jutaan langkah jamaah, transportasi, makanan, hotel, kesehatan, dan pendampingan lansia.
  • Ibadah haji bersifat individual namun membutuhkan pelayanan kolektif dari negara.
  • Apresiasi terhadap pelayanan Haji 2026 datang dari berbagai pihak, bukan hanya satu sumber.
  • Evaluasi lapangan menunjukkan peningkatan layanan pada keberangkatan, transportasi, pemondokan, konsumsi, dan kesehatan.
  • Ukuran keberhasilan pelayanan haji ditentukan oleh rasa aman, dihormati, dilayani, dan ketenangan beribadah jamaah.
  • Penulis berpandangan keberhasilan haji bukan sekadar statistik, melainkan perlakuan negara terhadap warganya yang beribadah.
  • Jamaah yang sakit membutuhkan kehadiran negara yang benar-benar terasa, bukan sekadar birokrasi.
Tagar Terkait
#umrah#haji#kemenhaj#ibadah#haji 2026#pelayanan jamaah
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.

Buka Sumber di Republika

Warta Terkini Lainnya