Johan Rosihan Soroti Stok Beras Berlebih tapi Harga Naik
Johan Rosihan menyoroti klaim stok beras tinggi tidak menjamin harga di pasar turun, karena tekanan kenaikan sudah terjadi sejak tingkat penggilingan dan akan ditanggung konsumen. Ia meminta pemerintah membedakan antara produksi, stok fisik, dan pasokan yang tersedia, serta membuka neraca beras secara rinci lengkap dengan lokasi, kualitas, dan pola distribusi. Johan menolak solusi yang menekan harga gabah petani dan menegaskan kebijakan pangan harus memastikan petani sejahtera sekaligus beras sampai ke konsumen dengan harga terjangkau.
Poin-Poin Utama
- Anggota DPR Johan Rosihan soroti klaim stok beras tinggi tidak otomatis bikin harga di pasar turun.
- Pernyataan Johan disampaikan lewat keterangan tertulis pada Rabu (9/9/2026).
- Johan bilang kenaikan harga sudah terjadi sejak tingkat penggilingan.
- Kenaikan harga di hulu pasti ditransmisikan ke konsumen sepanjang rantai perdagangan.
- Johan minta pemerintah bedakan produksi, stok fisik, dan pasokan yang benar-benar tersedia di pasar.
- Standing crop tidak boleh dipersepsikan sama dengan beras siap distribusi di gudang.
- Stok Bulog, rumah tangga, dan pelaku usaha juga tidak bisa dianggap setara.
- Setelah puncak panen, penggilingan swasta bersaing dengan Bulog untuk dapat gabah.
- Persaingan tersebut berpotensi dorong kenaikan harga gabah dan biaya produksi beras.
- Johan tolak solusi pelemahan harga gabah di tingkat petani.
- Kebijakan harga pembelian pemerintah tetap wajib demi penghasilan layak petani.
- Johan desak pemerintah dan Bulog buka neraca beras rinci, bukan cuma angka agregat nasional.
- Data neraca diminta memuat lokasi stok, pihak penguasa, kualitas, volume rilis pasar, dan pola distribusi antarwilayah.
- Johan minta pemetaan harga dari petani, pengumpul, penggilingan, distributor, grosir, hingga pengecer.
- Ukuran keberhasilan kebijakan pangan menurut Johan: beras ada di tempat, waktu, dan harga tepat untuk rakyat.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh DetikNews.