Ketika Pertumbuhan Pulang ke Daerah: 6% bukan Fatamorgana
Artikel menolak keraguan terhadap target pertumbuhan ekonomi 6% Presiden Prabowo pada 2027 dengan menunjukkan data BPS: jumlah kabupaten/kota yang tumbuh di atas 6% naik dari 80 pada kuartal I 2024 menjadi 118 pada kuartal I 2026, dengan hampir 70% daerah mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya. Akselerasi signifikan terjadi di berbagai provinsi dan daerah seperti Gorontalo, Halmahera Timur, dan Rote Ndao, membuktikan mesin pertumbuhan tidak hanya terpusat di satu wilayah melainkan tersebar di banyak titik Indonesia. Penulis menekankan bahwa kunci pertumbuhan bukan sekadar angka makro, melainkan dari mana pertumbuhan berasal, siapa yang menggerakkannya, dan kepada siapa hasilnya kembali.
Poin-Poin Utama
- Target pertumbuhan 6% pada 2027 dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
- Empat provinsi tumbuh 6% atau lebih pada kuartal I 2025, naik menjadi delapan provinsi setahun kemudian.
- Provinsi tumbuh minimal 6% pada semester pertama meningkat dari empat (2025) menjadi tujuh (2026).
- Kabupaten/kota tumbuh 6% atau lebih: 80 (kuartal I 2024), 101 (kuartal I 2025), 118 (kuartal I 2026).
- Jumlah kabupaten/kota tumbuh 6%+ bertambah sekitar 47,5% dalam dua tahun.
- 358 dari 514 kabupaten/kota mencatat pertumbuhan lebih tinggi pada kuartal I 2026 dibanding kuartal I 2024, hampir 70%.
- Gorontalo tumbuh dari 4,37% (2024) menjadi 6,08% (2025) dan 7,68% (2026).
- Kepulauan Riau tumbuh 5% (2024), 5,16% (2025), 7,04% (2026).
- Sulawesi Selatan tumbuh 4,82% (2024), 5,79% (2025), 6,88% (2026).
- Kalimantan Barat tumbuh 4,98% (2024), 5% (2025), 6,14% (2026).
- Halmahera Timur tumbuh 5,64% (2024) menjadi 26,25% (2025) dan 32,87% (2026).
- Rote Ndao tumbuh 2,71% (2024) menjadi 6,19% (2025) dan 15,68% (2026).
- Sinjai mencapai 11,14%, Pohuwato 10,48%, Gowa 9,05%, Mempawah 8,25%, Kendal 7,86%.
- Pertumbuhan ekstrem di beberapa daerah dipengaruhi basis ekonomi kecil, investasi baru, hilirisasi, atau proyek besar.
- Kajian Kiat memodelkan ekonomi Indonesia berpotensi mencapai sekitar 8,2% pada 2029.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.