Jalan Terjal Anak Disleksia
Anak dengan disleksia di Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar seperti rendahnya kesadaran masyarakat, stigma, keterbatasan layanan, serta ketiadaan data nasional tentang prevalensi disleksia. Identifikasi yang terlambat, yang umumnya terjadi saat anak sudah duduk di bangku sekolah dasar, menyebabkan banyak anak menjadi korban perundungan, stres, bahkan depresi, dengan catatan sekitar 50 kasus percobaan bunuh diri dan dua kasus bunuh diri berdasarkan data Asosiasi Disleksia Indonesia. Pemerintah dinilai masih diskriminatif karena regulasi yang ada menempatkan anak disleksia sebagai penyandang disabilitas dan mengarahkan mereka ke sekolah luar biasa, bukan sekolah reguler yang inklusif.
Poin-Poin Utama
- Anak dengan disleksia di Indonesia menghadapi tantangan dalam pendidikan.
- Tantangan utama meliputi rendahnya kesadaran, stigma, keterbatasan layanan, dan ketiadaan data nasional.
- dr Kristiantini Learning Center berada di Jalan Sukahaji, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat.
- Lembaga tersebut juga merupakan sekretariat Asosiasi Disleksia Indonesia.
- Mayoritas anak baru teridentifikasi disleksia saat duduk di bangku sekolah dasar.
- Idealnya, anak sudah harus teridentifikasi disleksia pada usia 5 tahun.
- Anak yang terlambat teridentifikasi sering mendapatkan stigma malas, bodoh, atau tidak mampu belajar.
- Anak disleksia membutuhkan pendekatan berbeda agar kemampuan mereka berkembang secara optimal.
- Untuk anak disleksia, pemberian materi bisa hingga empat kali untuk satu materi saja.
- dr Kristiantini Learning Center menggunakan terapi remedial dengan pendekatan multisensoris.
- Keterlambatan identifikasi menyebabkan banyak anak ditangani dalam kondisi disleksia sedang hingga berat.
- Keterlambatan identifikasi juga membuat anak rentan menjadi korban perundungan.
- Data ADI menunjukkan sekitar 50 kasus percobaan bunuh diri oleh penyandang disleksia.
- Disleksia dialami individu dengan kecerdasan normal atau rata-rata.
- UU Nomor 8 Tahun 2016 menempatkan anak disleksia sebagai penyandang disabilitas.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.