Peneliti BRIN Ungkap Gunung Anak Krakatau Tumbuh Kembali Pasca-Runtuh 2018
Gunung Anak Krakatau kini memasuki fase pertumbuhan kembali setelah runtuh pada 2018, di mana keruntuhan tersebut menurunkan ketinggian puncak dari 330 meter menjadi 120 meter dan memicu tsunami di Selat Sunda. Sejak 2019, aktivitas vulkanik berkembang secara bertahap dari erupsi yang dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian dan aliran lava yang membangun kerucut baru di dalam kawah. Peneliti BRIN menegaskan bahwa gunung api memiliki siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali yang sangat dinamis.
Poin-Poin Utama
- Gunung Anak Krakatau kini memasuki fase pertumbuhan kembali setelah runtuh pada 2018.
- Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani mengungkap fakta tersebut.
- Keruntuhan sektor barat daya Anak Krakatau pada 2018 melibatkan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik.
- Keruntuhan 2018 menurunkan ketinggian puncak gunung dari 330 meter menjadi 120 meter di atas permukaan laut.
- Keruntuhan tersebut memicu tsunami mematikan di Selat Sunda.
- Hilangnya sebagian tubuh gunung mengubah sistem erupsi Anak Krakatau.
- Pengurangan tekanan pada saluran magma dan masuknya air laut ke kawah mengubah gaya erupsi gunung.
- Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi.
- Aktivitas vulkanik berkembang dari erupsi yang dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian.
- Aktivitas vulkanik selanjutnya berkembang menjadi lava fountain dan aliran lava.
- Material vulkanik secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps.
- Pembentukan lava pada 2020 menjadi bukti signifikan pertumbuhan gunung.
- Penelitian ini merupakan kolaborasi antara BRIN, PVMBG, ITB, dan institusi internasional.
- Gunung api merupakan sistem yang sangat dinamis.
- Perilaku gunung api dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.