Beranda Jumat, 25 September 2026

!online

Energi Netral

Hilirisasi Industri Hijau, Energi Masih Hitam

Kamis, 24 September 2026, 12:04 WIB Sumber: Kompas
Ukuran:

Indonesia mengalami paradoks transisi energi seiring pertumbuhan pesat industri hilirisasi nikel dan aluminium yang justru bergantung pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara berkapasitas besar, dengan kapasitas PLTU captive terafiliasi China melonjak dari 0,3 GW pada 2021 menjadi 12,5 GW pada 2026. Laporan CREA dan Ember menunjukkan Indonesia menjadi salah satu pengecualian terbesar komitmen Xi Jinping karena 94 persen PLTU captive terkait China berada di Nusantara, menghasilkan listrik 161 TWh pada 2025 dengan lebih dari 81 TWh diserap industri pengolahan nikel. Tantangan transisi energi Indonesia tidak hanya berasal dari asal investasi, melainkan dari desain kebijakan hilirisasi yang menciptakan kebutuhan energi besar, murah, stabil, dan tersedia di lokasi terpencil yang secara struktural mendorong ketergantungan pada batubara.

Poin-Poin Utama

  • Indonesia membangun industri masa depan dengan energi batubara yang kotor.
  • Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara tumbuh pesat di Indonesia.
  • Sebagian besar PLTU tidak masuk jaringan listrik nasional, melainkan dibangun untuk mesin industri di kawasan terpencil.
  • Kapasitas PLTU terafiliasi China di Indonesia mencapai 17,1 gigawatt sejak 2021.
  • Angka itu jauh lebih besar dibandingkan Vietnam sebesar 3,8 GW dan Pakistan 3,4 GW.
  • Presiden China Xi Jinping menyatakan komitmen menghentikan pembangunan PLTU di luar negeri pada 2021.
  • Secara global, proyek PLTU terkait China sebesar 61,5 GW dibatalkan setelah komitmen tersebut.
  • Indonesia menjadi salah satu pengecualian terbesar atas komitmen itu.
  • Kapasitas PLTU captive melonjak dari 0,3 GW pada 2021 menjadi 12,5 GW pada 2026.
  • Sembilan puluh empat persen kapasitas PLTU captive operasional terkait China berada di Indonesia.
  • Lebih dari 9 gigawatt digunakan untuk industri nikel.
  • Sekitar 6 gigawatt terkait industri aluminium dan proyek penghasil nikel sekaligus aluminium.
  • Pada 2025, PLTU captive Indonesia menghasilkan listrik sekitar 50 persen lebih banyak dibandingkan PLTU pemasok jaringan nasional.
  • Total listrik captive mencapai 161 terawatt-jam pada 2025.
  • Lebih dari 81 terawatt-jam diserap industri pengolahan nikel, dan lebih dari 94 persen listrik sektor tersebut berasal dari batubara.
Tagar Terkait
#perubahan iklim#energi terbarukan#transisi energi#hilirisasi#nikel#batubara#daya saing#pltu captive#investor china
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.

Buka Sumber di Kompas

Warta Terkini Lainnya