Mayat di Enggano Identik ABK Surakman, Pakar Beri Saran Model Pencarian Lanjutan
Mayat yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, teridentifikasi sebagai anak buah kapal Arupadhatu 1 bernama Surakman melalui pencocokan DNA dengan keluarganya. Pakar mitigasi bencana Daryono menjelaskan bahwa perpindahan benda mengapung sejauh 380 km ke Pulau Enggano sangat mungkin terjadi karena kombinasi arus laut, pasang-surut, angin, dan gelombang di Selat Sunda yang memiliki dinamika sangat kompleks.
Poin-Poin Utama
- Mayat ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026.
- Mayat tersebut identik dengan anak buah kapal Arupadhatu 1 bernama Surakman.
- Surakman bertugas mengantar rombongan jurnalis ke kawasan Anak Gunung Krakatau.
- Identifikasi jenazah dilakukan oleh tim DVI milik Kepolisian Daerah Banten.
- Delapan keluarga korban kapal Arupadhatu 1 memberikan data antemortem.
- Data primer berupa sidik jari, gigi, dan DNA cocok dengan DNA keluarga Surakman.
- Pulau Enggano berjarak sekitar 380 km dari titik kapal dilaporkan hilang.
- Daryono merupakan pakar mitigasi bencana dan anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia.
- Selat Sunda merupakan pintu pertukaran massa air antara Laut Jawa dan Samudra Hindia.
- Arus di Selat Sunda bersifat dinamis dan dapat berbalik arah dalam hitungan jam.
- Pada Juni hingga September, arus residu di Selat Sunda cenderung bergerak ke barat daya.
- Penelitian berbasis HF Radar menunjukkan arus residu Selat Sunda mengarah ke barat daya.
- Pulau Krakatau, Sebesi, Sebuku, dan Sertung memperumit batimetri Selat Sunda.
- Arah hanyutan objek di laut merupakan resultan dari arus, angin, dan Stokes drift.
- Objek mengapung di laut tidak selalu bergerak searah arus pada satu titik tertentu.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Liputan6.