Biaya Pengobatan Naik, Prudential Ingatkan soal Risiko Finansial
Biaya perawatan penyakit pernapasan di Indonesia melonjak 106,3% menjadi rata-rata Rp103 juta pada 2025 dari Rp49,9 juta pada 2023, menjadikan perlindungan kesehatan melalui asuransi semakin krusial untuk mengantisipasi risiko finansial keluarga. Studi Prudential bersama Economist Impact mengungkapkan sembilan dari 10 responden pernah menunda perawatan kesehatan, sementara data WHO menunjukkan sekitar 26,6% masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membiayai layanan kesehatan dan pengeluaran langsung mencapai Rp175 triliun yang menempatkan sekitar 12,8 juta penduduk pada risiko jatuh miskin akibat beban biaya kesehatan.
Poin-Poin Utama
- Biaya perawatan penyakit pernapasan di Indonesia naik 106,3% menjadi rata-rata Rp103 juta pada 2025.
- Biaya perawatan penyakit pernapasan sebelumnya rata-rata Rp49,9 juta pada 2023.
- Banyak masyarakat menunda pemeriksaan dan perawatan kesehatan karena berbagai pertimbangan.
- Sembilan dari 10 responden pernah menunda perawatan kesehatan menurut studi Prudential plc dan Economist Impact.
- Hampir separuh responden melakukan penundaan perawatan secara berulang.
- Faktor penundaan meliputi keterbatasan informasi kesehatan dan pertimbangan biaya.
- Sekitar 26,6% masyarakat Indonesia menghadapi tantangan dalam membiayai layanan kesehatan pada 2025.
- Pengeluaran kesehatan langsung masyarakat diperkirakan mencapai Rp175 triliun.
- Sekitar 12,8 juta penduduk berisiko jatuh miskin akibat beban biaya kesehatan.
- Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan kasus ISPA pada September 2026.
- Kenaikan kasus ISPA terjadi terutama di Banten, Lampung, dan Jawa Barat.
- Produk asuransi kesehatan penting untuk perencanaan keuangan keluarga.
- Perlindungan kesehatan diperlukan agar tabungan tidak dikorbankan saat kondisi medis tidak terduga.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.