Lindungi Martabat Manusia, Gereja-gereja di Papua Bersatu dalam HONAI
gereja di Indonesia dan ditujukan untuk melindungi pengungsi internal, penyintas, serta masyarakat sipil terdampak dengan mendorong pemenuhan hak-hak dasar dan pemulihan martabat manusia. Melalui HONAI, gereja-gereja menyerukan kepada pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk membuka akses kemanusiaan, menghentikan kekerasan terhadap warga sipil, serta membangun solidaritas nyata demi terciptanya perdamaian dan keadilan di tanah Papua.
Poin-Poin Utama
- Gereja-gereja di Papua sepakat membentuk Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative (HONAI) pertengahan September 2026.
- HONAI juga berfungsi sebagai Pusat Krisis Kemanusiaan Papua Barat.
- Pembentukan HONAI didukung oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.
- Tujuan HONAI adalah melayani pengungsi internal, penyintas, dan masyarakat sipil yang terdampak konflik.
- Pendeta Andrikus Mofu ditunjuk sebagai Ketua HONAI.
- Andrikus menyampaikan pernyataan pers pada 15 September 2026.
- Sekretaris Umum Majelis Pekerja Harian PGI adalah Pendeta Darwin Darmawan.
- Darwin menyampaikan keterangan di Jakarta pada 1 Oktober 2026.
- Gereja bergumul untuk perdamaian di Papua selama 63 tahun.
- Pendeta Yemima M Krey pernah menjabat sebagai Ketua Sinode Gereja Kristen Injili di tanah Papua.
- HONAI menyediakan perlindungan pengungsi dan pemenuhan kebutuhan dasar.
- HONAI memberikan dukungan psikososial serta ruang aman bagi penyintas.
- Perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan menjadi fokus utama perlindungan HONAI.
- HONAI meminta pemerintah membuka akses kemanusiaan dan melindungi pekerja kemanusiaan.
- HONAI mendesak penghentian kekerasan terhadap warga sipil dan penghormatan terhadap hukum humaniter.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.