Beranda Minggu, 4 Oktober 2026

!online

Pendidikan Netral

Keteladanan Guru Makin Dibutuhkan di Era AI

Minggu, 4 Oktober 2026, 17:06 WIB Sumber: Kompas
Ukuran:

Hari Guru Sedunia 2026 menjadi momentum untuk mengevaluasi perlakuan terhadap profesi guru, di mana UNESCO menekankan bahwa guru membutuhkan pengakuan sosial, otonomi profesional, pengembangan karier, gaji layak, sumber daya memadai, serta keterlibatan dalam kebijakan pendidikan, sekaligus menegaskan bahwa AI seharusnya memperkuat peran guru. UNESCO telah menyusun kerangka kompetensi AI bagi guru yang mencakup lima bidang, dan reports indicates a global shortage of 44 million teachers by 2030, dengan ASEAN membutuhkan sekitar 4,5 juta guru. Di Indonesia, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menekankan bahwa peran guru sebagai pembentuk karakter semakin penting dalam era AI, dan penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) menjadi kunci untuk menjadikan guru sebagai agen peradaban yang menciptakan lingkungan inklusif dan toleran.

Poin-Poin Utama

  • Hari Guru Sedunia diperingati setiap 5 Oktober 2026.
  • UNESCO menegaskan guru membutuhkan pengakuan sosial, otonomi profesional, pengembangan karier, gaji layak, dan keterlibatan dalam kebijakan pendidikan.
  • AI seharusnya memperkuat peran dan kompetensi guru, bukan melemahan.
  • AI dapat mengurangi beban administratif guru sehingga guru lebih fokus pada keahlian manusia.
  • UNESCO menyusun kerangka kompetensi AI bagi guru yang mencakup lima bidang.
  • UNESCO menyatakan teknologi tidak dapat menggantikan guru karena guru mampu memahami kondisi murid melalui pengamatan perilaku.
  • Dunia kekurangan 44 juta guru sampai 2030 untuk mencapai pendidikan universal.
  • Kawasan ASEAN membutuhkan sekitar 4,5 juta guru.
  • Abdul Mu'ti menegaskan peran guru sebagai agent of civilization, bukan sekadar agent of learning.
  • Keteladanan guru semakin penting dalam era kecerdasan buatan.
  • Budaya Sekolah Aman dan Nyaman terus dibudayakan di seluruh satuan pendidikan.
  • Guru menjadi figur sentral yang menjadi teladan bagi murid-muridnya.
  • Sekolah dapat menjadi meeting point dan melting point bagi murid dari latar belakang berbeda.
  • Sikap terbuka merupakan wujud toleransi otentik yang memiliki lima dimensi.
  • Upaya BSAN tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di masyarakat.
Tagar Terkait
#kecerdasan buatan#guru#kemendikdasmen#abdul mu'ti#unesco#pendidikan karakter#hari guru sedunia#teladan#budaya sekolah aman dan nyaman#literasi keagamaan lintas budaya#institut leimena
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.

Buka Sumber di Kompas

Warta Terkini Lainnya