Kabut Asap di Palembang Semakin Pekat, Masuk Kategori Berbahaya
Kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, pada Minggu (4/10) semakin pekat akibat kebakaran hutan dan lahan, membuat jarak pandang sangat terbatas dan jarak pandang pun sangat terbatas. Tingkat PM2.5 di Palembang tercatat berada pada kategori berbahaya dengan angka tertinggi 903,6 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang milik BMKG. Kondisi ini telah menelan korban jiwa, seorang pengemudi ojek online bernama Ardiansyah (41) meninggal dunia akibat sesak napas yang diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla yang menyelimuti kota selama hampir dua bulan.
Poin-Poin Utama
- Kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, semakin pekat pada Minggu (4/10) imbas kebakaran hutan dan lahan.
- Level udara di Palembang berada pada kategori berbahaya menurut BMKG.
- Jarak pandang sangat terbatas akibat kabut asap yang menyelimuti Palembang.
- PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang mencapai 358,7 µg/m³ pada pukul 02.00 WIB dan masuk kategori berbahaya.
- PM2.5 meningkat menjadi 641,4 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB.
- PM2.5 naik menjadi 784,8 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB.
- PM2.5 mencapai puncak tertinggi 903,6 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB.
- Angka PM2.5 903,6 µg/m³ merupakan nilai tertinggi sepanjang pemantauan tahun ini.
- PM2.5 turun menjadi 673,4 µg/m³ pada pukul 06.00 WIB namun masih di level bahaya.
- PM2.5 menurun menjadi 271,7 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB.
- PM2.5 naik kembali ke 495,6 µg/m³ dan masuk level berbahaya pada pukul 16.00 WIB.
- Kabut asap telah menyelimuti wilayah Sumatera Selatan selama hampir dua bulan.
- Ardiansyah (41), pengemudi ojek online di Palembang, meninggal dunia akibat sesak napas.
- Keluarga menduga kematian Ardiansyah berkaitan dengan paparan asap karhutla.
- Almarhum Ardiansyah memiliki riwayat asma dan sering mengalami batuk serta sesak saat beraktivitas di luar rumah.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh CNN.