Ujian Ketahanan Pangan akibat Gelombang Panas
Juli 2026 menyebabkan produksi pertanian menurun signifikan, termasuk serealia 24–49 persen di Spanyol, susu hingga 20 persen di Italia, serta total biji-bijian UE dan Inggris berkurang sekitar 9 juta ton. Fenomena ini juga mengeringkan sungai-sungai utama dan menurunkan curah hujan, sehingga mengganggu tanam, pematangan, dan pakan ternak, dengan kerugian pertanian akibat panas Juni mencapai sekitar 2 miliar euro. Dampaknya meluas secara global melalui kenaikan harga pangan dan ancaman ketahanan pangan, termasuk bagi Indonesia sebagai importir gandum.
Poin-Poin Utama
- Komisi Eropa memprakirakan produksi pertanian musim panas 2026 turun hingga 14 persen.
- Penurunan produksi dipublikasikan pada 24 Agustus 2026.
- Kementerian Pertanian Perancis melaporkan produksi jagung 2026 turun 35 persen dari 2025, menjadi sekitar 9 juta ton.
- Di Spanyol, produksi serealia turun 24-49 persen dan produksi anggur turun 20 persen.
- Produksi susu di Perancis turun hingga 15 persen.
- Produksi susu domba dan kambing di Spanyol turun 6,5 persen dan 10,8 persen.
- Produksi susu di Italia turun 20 persen.
- COCERAL memperkirakan produksi biji-bijian UE dan Inggris 2026 berkurang 9 juta ton.
- COCERAL sebelumnya memperkirakan total panen biji-bijian 2026 UE dan Inggris sebesar 295,5 juta ton.
- Gelombang panas beruntun menerjang Eropa dari akhir Mei hingga Juli 2026 dengan suhu puncak 40-46 derajat Celsius.
- Sungai Rhine, Po, dan Danube mengering akibat gelombang panas.
- ECIU memperkirakan kerugian penurunan produksi pertanian akibat panas ekstrem Juni 2026 mencapai sekitar 2 miliar euro.
- Indeks Harga Pangan FAO naik 1,9 persen dari Juli 2026 dan naik 2,5 persen dari Agustus 2025.
- Produksi sayuran Perancis menyusut signifikan, termasuk selada, kacang polong, dan brokoli, menurut The Guardian edisi 17 Agustus 2026.
- Indonesia sebagai pengimpor gandum akan terdampak melalui lonjakan harga dan ketatnya pasokan pangan global.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.