Hujan Abu Vulkanik Sampai Kapan? Ini Penjelasan Ahli
Ahli bencana IABI menjelaskan bahwa hujan abu vulkanik baru berhenti total ketika pasokan magma dari dalam bumi mereda, sehingga durasi pastinya tidak bisa diprediksi berdasarkan kalender. Arah dan jangkauan sebaran abu sangat dipengaruhi oleh kekuatan erupsi serta arah angin, yang dapat membawa partikel hingga puluhan bahkan ratusan kilometer. Indikator meredanya aktivitas gunung meliputi menurunnya gempa dari kedalaman, berkurangnya emisi gas, dan perubahan bentuk tubuh gunung yang menunjukkan deflasi.
Poin-Poin Utama
- Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menyatakan hujan abu vulkanik berhenti total setelah pasokan magma dari dalam bumi mereda.
- Durasi pasti berakhirnya letusan gunung api tidak dapat diprediksi berdasarkan tanggal atau bulan kalender.
- Anggota IABI Daryono menyampaikan pernyataan tersebut pada Senin (7/9).
- Arah dan jangkauan sebaran abu vulkanik dipengaruhi oleh kekuatan erupsi dan arah angin.
- Erupsi kuat dapat melontarkan abu vulkanik hingga lapisan udara lebih tinggi.
- Partikel halus abu vulkanik dapat terbawa angin hingga puluhan bahkan ratusan kilometer.
- Erupsi mereda sepenuhnya ketika pasokan magma segar berkurang atau berhenti serta tekanan sistem magma kembali tenang.
- Selama kantong magma masih menerima kiriman magma baru, erupsi susulan masih berpotensi terjadi secara fluktuatif.
- Pasokan magma berhenti ketika energi dorongan alami dari dalam bumi hilang.
- Magma di saluran gunung api dapat mendingin dan mengeras sehingga tidak mampu mendorong material ke permukaan.
- Indikator berkurangnya pasokan magma meliputi menurunnya aktivitas gempa dari kedalaman.
- Indikator lainnya mencakup berkurangnya emisi gas vulkanik dan perubahan bentuk tubuh gunung yang menunjukkan deflasi.
- Ahli belum dapat memprediksi secara presisi kapan sebuah gunung api berhenti erupsi.
- Belum ada teknologi yang mampu mengukur secara pasti jumlah magma tersisa di dalam bumi.
- Ahli vulkanologi menilai akhir fase erupsi melalui pemantauan kegempaan, deformasi, dan emisi gas secara berkelanjutan.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.