Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Kesehatan Negatif

Anak rentan ancaman abu vulkanik: Jangan buru-buru sekolah tatap muka erupsi mereda

Jumat, 11 September 2026, 15:10 WIB Sumber: Theconversation.com Dibaca 1 kali
Ukuran:

Anak usia sekolah lebih rentan terhadap dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik dan gas SO2 pascaerupsi Gunung Anak Krakatau dibandingkan orang dewasa, karena sistem kekebalan dan organ mereka masih berkembang serta saluran napas lebih kecil sehingga berisiko menghirup lebih banyak partikel berbahaya. Pemerintah daerah perlu melakukan penilaian risiko kesehatan lingkungan yang menyeluruh—melibatkan DLHK, BPBD, Dinkes, dan Disdik—sebelum memutuskan kebijakan sekolah tatap muka, dengan mempertimbangkan tingkat paparan, kualitas udara, serta kemampuan sekolah dalam mitigasi. Sebagai contoh, Kota Bogor dengan indeks SO2 sebesar 64 berstatus "Sedang" sebaiknya tetap menerapkan pembelajaran daring mengingat batas aman WHO yang lebih ketat untuk melindungi keselamatan anak.

Poin-Poin Utama

  • Erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi dalam sepekan terakhir
  • Gas sulfur dioksida (SO2) dilepaskan saat erupsi gunung api
  • Anak usia sekolah lebih rentan terhadap dampak debu vulkanik dibanding orang dewasa
  • Sistem kekebalan dan organ anak masih berkembang sehingga belum sekuat orang dewasa
  • Anak-anak memiliki saluran napas lebih kecil dan kecenderungan bernapas lebih cepat
  • Efek akut debu vulkanik meliputi iritasi saluran napas, batuk, produksi lendir, sesak napas, hingga kematian
  • Dampak jangka panjang debu vulkanik meliputi penghambatan pertumbuhan dan pengurangan fungsi paru
  • Paparan debu vulkanik dapat mengganggu perkembangan kognitif anak
  • Debu vulkanik tajam dapat menyebabkan konjungtivitis hingga lecet kornea
  • Pada kulit, dampak meliputi gatal, iritasi, hingga dermatitis
  • PP No. 22/2021 menetapkan ambang batas PM2,5 55 µg/m³, PM10 75 µg/m³, dan SO2 65 µg/m³
  • WHO merekomendasikan batas lebih ketat, PM2,5 15 µg/m³, PM10 45 µg/m³, dan SO2 40 µg/m³
  • Indeks pencemaran SO2 di Kota Bogor mencapai 64 pada 11 September
  • Pemantauan real-time diperlukan saat kondisi erupsi karena paparan dapat meningkat cepat
  • Koordinasi lintas sektor diperlukan antara DLHK, BPBD, DPKP, Dinkes, dan Disdik
Tagar Terkait
#gunung anak krakatau#abu vulkanik#pembelajaran jarak jauh#kualitas udara#pm2.5#erupsi gunung berapi#kesehatan anak#sulfur dioksida#sekolah tatap muka
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Theconversation.com.

Buka Sumber di Theconversation.com

Warta Terkini Lainnya