Badak Jawa, Krakatau Dan Tsunami
Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) tercatat masih bertahan di Taman Nasional Ujung Kulon, dengan dua anak terlihat melalui kamera video trap pada Maret 2021, di kawasan yang secara geologi dinamis karena aktivitas vulkanik dan tektonik Selat Sunda. Penelitian menunjukkan badak tidak musnah akibat letusan Krakatau 1883, melainkan populasinya tetap ada sekitar 40–50 individu hingga 1949, dan letusan tersebut mengubah lanskap sehingga membentuk kondisi yang memungkinkan populasi bertahan, bukan menyelamatkannya. Namun, kemampuan adaptasi terhadap perubahan habitat tidak menjamin keselamatan dari bencana katastrofik seperti gempa dan tsunami, terbukti oleh tsunami 22 Desember 2018 yang dipicu longsoran bawah laut terkait aktivitas Anak Krakatau.
Poin-Poin Utama
- Two Javan rhinos detected by video trap in Ujung Kulon peninsula from March 2021.
- Ujung Kulon faces Sunda Strait volcanic and tectonic activity.
- Before 1883 Krakatau eruption, rhinos already recorded in Ujung Kulon.
- Post-1883 rhino population ranged 40-50 individuals until 1949 per van Strien and Rookmaaker 2010.
- 1883 eruption altered soil, vegetation, and Ujung Kulon landscape per Hommel 1987.
- Javan rhinos use shrubs, swamps, open habitats, lowlands, rivers, coasts, wallows, and vegetation gaps per Santosa et al. 2013.
- Habitat selection linked to soil, salinity, and coastal distance per Rahmat et al. 2008.
- Ujung Kulon sits west Java opposite Sunda Strait tectonic zone.
- 22 December 2018 tsunami struck the region.
- 2018 tsunami caused by Anak Krakatau-related underwater landslide, not major tectonic quake per Widiyanto et al. 2020.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.