Kisah di Balik Kain Tenun dalam Film Dokumenter Wilsen Willim
Film dokumenter "Reinventing Tenun: Journey to Algorithm" karya desainer Wilsen Willim mengisahkan proses dan cerita di balik kain tenun dari empat daerah, yaitu Jawa Barat, Kalimantan Barat, Bali, dan Sumatera Barat, dengan konsep participatory documentaries. Wilsen terlibat aktif bersama para perajin, termasuk kolaborasi untuk mengatasi masalah bahan baku mahal dengan limbah denim di Garut serta pelatihan bersama Cita Tenun Indonesia dan Kawan Lama Group untuk memberdayakan penenun di Putussibau. Artikel ini juga menyoroti kritik terhadap aspek audio yang cenderung monoton pada babak Jawa Barat, meskipun visual yang ditampilkan sangat kaya.
Poin-Poin Utama
- Film dokumenter 'Reinventing Tenun: Journey to Algorithm' karya Wilsen Willim tayang perdana pada Jumat (21/8/2026) di Plaza Indonesia, Jakarta.
- Pemutaran film bertepatan dengan hari ulang tahun ke-33 desainer Wilsen Willim.
- Film berdurasi hampir satu jam dikemas dengan konsep participatory documentaries.
- Wilsen terlibat aktif bersama penenun di empat daerah: Jawa Barat, Kalimantan Barat, Bali, dan Sumatera Barat.
- Jawa Barat menjadi tempat pertama yang dikunjungi dengan karya Tenun Sutera Garut.
- Perajin Karyana Silkhouse mengeluhkan harga bahan baku yang menjulang tinggi.
- Wilsen mengajak perajin menenun menggunakan benang hasil limbah denim, menghasilkan Tenun Sutera Garut yang tampak menerawang.
- Sutradara film adalah Jibril Fitra Erlangga (Mage Jibril).
- Jibril terkendala sulit mengakses musik bebas copyright, khususnya musik Sunda.
- Pada babak Sumatera Barat, Jibril mengambil sampel musik secara langsung di Bandara Internasional Minangkabau.
- Wilsen menempuh perjalanan melalui moda udara, darat, dan perairan menuju Putussibau, Kalimantan Barat.
- Perajin Tenun Dayak Iban dari komunitas Lauk Rugun mengeluhkan hasil kain tenun yang tidak serta-merta memberikan penghasilan.
- Wilsen berkolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia dan Kawan Lama Group untuk membuat pelatihan bagi perajin.
- Pulau Bali menjadi tujuan selanjutnya dalam serial dokumenter tersebut.
- Musik pada bagian Jawa Barat cenderung monoton sehingga kurang menggugah pengalaman menonton.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.