Gas SO2 Menyebar Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau? Ini Kata BMKG dan PVMBG
BMKG dan PVMBG menanggapi isu sebaran gas SO2 erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut mencapai Jawa Tengah, menegaskan bahwa luas sebaran di citra satelit tidak otomatis berbahaya bagi warga di permukaan. Gas SO2 yang sudah menempuh jarak jauh berubah menjadi partikel aerosol sulfat sehingga yang terhirup warga Jabodetabek adalah campuran abu vulkanik dan partikel kecil, bukan gas SO2 murni. BMKG mengimbau masyarakat memantau angka kualitas udara resmi, memakai masker dan kacamata pelindung, serta menutup ventilasi rumah selama aktivitas luar ruangan.
Poin-Poin Utama
- Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang menghasilkan emisi gas sulfur dioksida (SO2) terdeteksi satelit.
- BMKG menyatakan sebaran gas SO2 di atmosfer membesar berdasarkan citra satelit.
- BMKG menegaskan warna merah pada peta satelit kolom atmosfer bukan patokan bahaya udara permukaan.
- BMKG menyebut patokan bahaya udara permukaan adalah angka kualitas udara resmi pemerintah.
- Gas SO2 berubah menjadi aerosol sulfat setelah bereaksi dengan oksigen dan uap air di atmosfer.
- Aerosol sulfat bersifat mirip debu halus bercampur abu vulkanik, tidak lagi menyengat seperti gas murni.
- Yang terhirup warga Jabodetabek dominan abu vulkanik bercampur sedikit partikel hasil perubahan SO2, bukan SO2 murni.
- Masker dan kacamata pelindung direkomendasikan untuk aktivitas luar ruangan.
- BMKG merekomendasikan mengurangi aktivitas luar saat hujan abu atau kualitas udara tidak sehat.
- BMKG meminta penutupan pintu, jendela, ventilasi untuk cegah abu masuk ruangan.
- Pembersihan abu pada atap, kendaraan, halaman disarankan dengan cara disiram air, bukan disapu kering.
- BMKG menyarankan pemantauan berkala angka kualitas udara resmi, bukan hanya citra satelit.
- PVMBG membenarkan erupsi Gunung Anak Krakatau menghasilkan emisi SO2 terdeteksi satelit.
- PVMBG menyatakan klaim bahaya SO2 ke permukaan belum bisa dibenarkan hanya dari citra satelit.
- PVMBG menegaskan diperlukan pengukuran kualitas udara permukaan untuk memastikan bahaya.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh DetikNews.