Ini Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan Menurut Dokter Spesialis Paru
Ketua Majelis Kehormatan PDPI Prof. Tjandra Yoga Aditama memperingatkan bahaya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang sudah menjangkau Jabodetabek, sebab partikel mineral, bebatuan, dan kaca mikroskopisnya dapat menyebabkan bronkitis, perburukan asma/PPOK, asfiksia, serta iritasi kulit, mata, dan pencernaan. Masyarakat diimbau memakai masker, pelindung tubuh, membatasi aktivitas luar ruang, menjaga kebersihan, serta memantau informasi resmi BMKG. Meskipun situasi Jakarta belum darurat, warga dengan keluhan kesehatan diminta segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan.
Poin-Poin Utama
- Ketua Majelis Kehormatan PDPI Prof. Tjandra Yoga Aditama memperingatkan bahaya abu vulkanik bagi paru.
- Abu vulkanik mengandung mineral, bebatuan, dan partikel kaca mikroskopis tajam.
- Abu vulkanik tersebar dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda ke wilayah Jabodetabek.
- Pengisapan abu langsung dapat memicu batuk dan iritasi tenggorokan.
- Paparan abu dapat menimbulkan gangguan mirip bronkitis (bronchitis-like illnesses).
- Penderita asma bronkiale dan PPOK berisiko mengalami serangan lebih parah.
- Kadar abu sangat pekat dekat letusan dapat menyebabkan asfiksia atau kekurangan oksigen.
- Abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi kulit dan iritasi mata.
- Pencemaran sumber air dan makanan oleh abu berisiko menimbulkan gangguan saluran pencernaan.
- Masker wajib bagi penderita penyakit paru kronik dan warga di kawasan dengan intensitas abu tinggi.
- Kacamata pelindung dan pakaian lengan panjang disarankan saat abu cukup pekat.
- Aktivitas luar ruang berlebihan harus dihindari dan rumah harus tertutup rapat.
- Mandi serta cuci pakaian segera setelah beraktivitas di luar rumah direkomendasikan.
- Informasi erupsi harus dipantau dari institusi resmi seperti BMKG.
- Gunung Anak Krakatau masih erupsi menerus dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.