Presiden Iran Masoud Pezeshkian Tegaskan Perlawanan Terhadap Agresor
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan mundur menghadapi tekanan militer dan akan terus melawan agresor, meskipun sebenarnya Iran menentang perang demi stabilitas kawasan. Ketegangan muncul karena Iran menuding Amerika Serikat melanggar nota kesepahaman Juni yang dimediasi Pakistan dan Qatar, dengan syarat deeskalasi berupa penghentian operasi militer dan blokade laut AS. Sementara itu, Menlu Abbas Araghchi melakukan diplomasi dengan Jepang dan Oman, termasuk kemajuan signifikan negosiasi jalur transit sementara di Selat Hormuz.
Poin-Poin Utama
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran tidak akan mundur dari tekanan militer.
- Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (8/9/2026) melalui akun X.
- Pezeshkian menyebut perlawanan akan berlanjut hingga para agresor menyesali tindakan mereka.
- Iran menegaskan posisi dasarnya adalah menghindari konflik bersenjata demi stabilitas kawasan.
- Prioritas utama Iran adalah perlindungan terhadap hak-hak bangsa Iran.
- Teheran menuduh Amerika Serikat melanggar nota kesepahaman yang ditandatangani Juni lalu.
- Nota kesepahaman tersebut dimediasi oleh Pakistan dan Qatar.
- Kesepakatan itu awalnya dirancang sebagai kerangka penghentian permusuhan dan negosiasi lanjutan.
- Iran mensyaratkan deeskalasi berupa penghentian operasi militer dan blokade laut oleh AS.
- Menlu Iran Abbas Araghchi berbicara lewat telepon dengan Menlu Jepang Toshimitsu Motegi.
- Araghchi menyebut kepatuhan AS terhadap nota kesepahaman Islamabad sebagai kunci penurunan ketegangan.
- Terjadi perkembangan positif dalam negosiasi dengan Oman terkait stabilitas maritim.
- Negosiasi Selat Hormuz mencakup pembentukan jalur transit sementara.
- Jalur transit sementara tersebut sedang difinalisasi bersama Oman untuk menjaga kelancaran arus logistik.
- Sumber berita: Anadolu/Ant/I-1.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.