BMKG: Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak Picu Tsunami di Selat Sunda
BMKG memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Selasa (8/9/2026) tidak memicu anomali gelombang laut di Selat Sunda, dengan probabilitas tsunami rendah di bawah 50 persen berdasarkan pemantauan 20 tsunami gauge dan HF Radar Array. Tinggi gelombang di Selat Sunda berkisar 0,5–3 meter, sementara erupsi tipe strombolian tercatat dengan amplitudo 48 mm dan durasi 19 detik. BMKG bersama BNPB dan Kemenhub menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui lima sorti penerbangan untuk membersihkan abu vulkanik, dan mengimbau warga terdampak memakai masker serta kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.
Poin-Poin Utama
- BMKG memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau per Selasa (8/9/2026) tidak memicu anomali gelombang di Selat Sunda.
- Pemantauan dilakukan lewat 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung.
- Probabilitas tsunami tercatat rendah, di bawah 50 persen.
- Tinggi gelombang di Selat Sunda berkisar 0,5 hingga 3 meter.
- Cuaca permukaan laut diprakirakan cerah hingga cerah berawan dari 8–13 September 2026.
- PVMBG melaporkan erupsi tipe strombolian pukul 07.49 WIB dengan amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 19 detik.
- BMKG, BNPB, dan Kemenhub menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membersihkan abu vulkanik.
- OMC mengoperasikan lima sorti penerbangan dengan dua pesawat Cessna Caravan dari Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.
- Satu sorti menggunakan penyemaian bubuk garam (NaCl).
- Satu sorti menggunakan cairan CaCl2 sebagai inti kondensasi hujan.
- Tiga sorti menggunakan penyemprotan water mist ke atmosfer.
- Masyarakat diimbau membatasi aktivitas luar ruangan.
- Warga yang keluar rumah diwajibkan memakai masker dan kacamata pelindung.
- Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan keterangan di Jakarta pada Selasa (8/9).
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.