Dampak Erupsi Krakatau, BMKG Sebut Peluang Tsunami Rendah tapi Gelombang Bisa Capai 3 Meter
BMKG menyatakan peluang tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9/2026) rendah, berdasarkan pemantauan 20 tsunami gauge dan HF Radar di Carita serta Tanjung Lesung yang tidak menemukan anomali muka air laut. Meskipun demikian, BMKG memperkirakan tinggi gelombang di Selat Sunda berkisar 0,5–3 meter selama 8–13 September 2026. Eupsi terbaru GAK pada Selasa pagi (8/9/2026) tergolong strombolien dengan amplitudo 48 mm dan durasi 19 detik, disertai aktivitas geomagnetik dan sambaran petir vulkanik yang mulai menurun intensitasnya.
Poin-Poin Utama
- Erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi di Selat Sunda pada Sabtu (5/9/2026).
- BMKG menyatakan peluang tsunami akibat erupsi berada di bawah 50 persen atau kategori rendah.
- Pemantauan dilakukan melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung.
- BMKG tidak menemukan anomali gelombang muka air laut melalui alat deteksi tsunami.
- Tinggi gelombang di Selat Sunda diperkirakan 0,5–3 meter untuk periode 8–13 September 2026.
- Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada tingkat siaga tertinggi kedua.
- PVMBG melaporkan erupsi baru pada pukul 07.49 WIB dengan amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 19 detik.
- Erupsi tersebut masuk kategori strombolien atau erupsi kecil.
- BMKG memantau gangguan geomorfik dan sambaran petir melalui sensor magnet bumi dan lightning detector.
- Aktivitas gangguan geomagnetik kecil dan sambaran petir vulkanik tercatat pukul 21.00–23.00 WIB.
- Intensitas aktivitas tersebut menunjukkan penurunan dibanding hari-hari sebelumnya.
- BMKG tidak mendeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut hingga pagi ini.
- BMKG juga tidak mendeteksi perubahan pola arus permukaan secara signifikan.
- Pengecekan muka air laut menjadi dasar kesimpulan rendahnya peluang tsunami.
- Sumber informasi berasal dari Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, pada Selasa (8/9/2026).
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.