Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Ekonomi Negatif

Mengapa work life balance justru menjadi kemewahan di era AI?

Kamis, 10 September 2026, 00:16 WIB Sumber: Theconversation.com
Ukuran:

Kemajuan teknologi seperti AI dan komunikasi instan seharusnya memberi waktu luang lebih bagi pekerja, namun organisasi justru memanfaatkan efisiensi teknologi untuk meningkatkan intensitas kerja dan keuntungan, bukan mengurangi jam kerja. Teori Labour Process Theory dari Harry Braverman menjelaskan bahwa teknologi dipakai sebagai sarana organisasi mengawasi dan mengendalikan pekerja, menciptakan paradoks otonomi di mana fleksibilitas kerja malah mengikis kendali pekerja atas waktu luangnya. Solusi yang ditawarkan pun masih banyak berfokus pada kemampuan individu, padahal akar persoalan sebenarnya terletak pada desain kerja dan tata kelola organisasi.

Poin-Poin Utama

  • Work life balance tetap sulit tercapai meski teknologi semakin canggih.
  • Logika organisasi berorientasi pada profit sehingga waktu luang pekerja menjadi terpinggirkan.
  • Semangat digitalisasi diharapkan meningkatkan efisiensi kerja.
  • Kemajuan AI berpotensi memberikan keuntungan optimal dengan waktu produksi lebih singkat.
  • Pekerja tetap dibebani koordinasi lewat grup WhatsApp kantor meski jam 5 sore terlewat.
  • Banyak pekerja merasa tidak boleh meninggalkan pekerjaan meski sedang cuti atau sakit.
  • Laporan Microsoft Work Trend Index Special Report: Breaking Down the Infinite Workday mencatat hari kerja modern penuh email, pesan instan, rapat, dan interupsi digital.
  • Bisa dihubungi kapan saja dianggap bagian dari profesionalisme oleh masyarakat.
  • Labour Process Theory dari Harry Braverman melihat teknologi sebagai sarana organisasi mengawasi dan mengendalikan proses kerja.
  • AI dan otomatisasi mempercepat pekerjaan administratif dan produksi.
  • Organisasi meningkatkan ekspektasi output dengan sumber daya sama akibat efisiensi teknologi.
  • Fleksibilitas bekerja dari rumah (WFH) tidak otomatis mengurangi beban kerja dan target.
  • Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengingatkan teknologi digital belum otomatis menghadirkan pekerjaan lebih berkualitas.
  • Paradoks otonomi (autonomy paradox) muncul ketika fleksibilitas mengikis kendali pekerja atas waktu luang.
  • Tuntutan selalu siaga menjadi salah satu penyebab utama perasaan burnout.
Tagar Terkait
#ai#teknologi#wfh#produktivitas#tenaga kerja#otomatisasi#work life balance#burnout
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Theconversation.com.

Buka Sumber di Theconversation.com

Warta Terkini Lainnya