Hukum Negatif
Susah dihilangkan, benarkah premanisme ada yang memelihara?
ekonomi oleh pemerintah.
Poin-Poin Utama
- Aksi demonstrasi belakangan diwarnai bentrokan antara massa aksi dan ormas.
- Pakar kriminologi Universitas Indonesia Ardi Putra Prasetya menilai bentrokan antarkelompok dalam demonstrasi menyerupai pola PAM Swakarsa di era Orde Baru.
- Ardi menyatakan kelompok tandingan dalam aksi massa tidak selalu muncul alami dari masyarakat.
- Dalam beberapa kasus, kelompok tandingan sengaja dimobilisasi untuk melemahkan gerakan warga.
- Ardi menyebut premanisme bukan soal identitas kelompok, melainkan tindakan kekerasan, intimidasi, atau pemerasan untuk kepentingan ekonomi dan politik.
- Fenomena premanisme berkaitan dengan marginalisasi sosial dan minimnya lapangan kerja menurut teori strain dalam kriminologi.
- Kelompok preman mudah dihimpun lewat solidaritas semu dan iming-iming keuntungan seperti proyek, jaminan keamanan, hingga akses politik.
- Ardi menilai praktik premanisme sulit dihilangkan karena ada hubungan saling membutuhkan antara kelompok informal dan elite atau pihak berkuasa.
- Elite memanfaatkan kelompok informal untuk tindakan yang berisiko melanggar hukum jika dilakukan aparat resmi.
- Dampak premanisme meliputi ketakutan masyarakat menyuarakan pendapat.
- Bentrokan antarkelompok dapat memicu perpecahan di masyarakat.
- Praktik tersebut mengikis kepercayaan publik terhadap pemerintah.
- Ardi menilai masalah premanisme tidak bisa diselesaikan hanya dengan penindakan polisi.
- Ardi mendorong peran masyarakat melalui sanksi sosial yang konsisten untuk menimbulkan efek jera.
- Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengamanan secara transparan dan mengatasi ketimpangan sosial-ekonomi untuk menekan mobilisasi massa.
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?
Buka Sumber di Theconversation.comHak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Theconversation.com.