Kredibilitas Indonesia Kembali Diuji Gejolak Global
Forum diskusi Bank UOB Indonesia menyoroti bahwa ketidakpastian global dan tekanan kebijakan moneter menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun selisih suku bunga dengan AS yang lebar (200-225 bps) membantu menjaga daya tarik investasi. Pakar menekankan bahwa kepercayaan investor perlu dibangun melalui kepastian hukum, iklim berusaha, serta keberlanjutan fiskal, terutama terkait alokasi transfer ke daerah yang terus dipangkas sejak 2025. Defisit neraca pendapatan primer sebesar 9,7 miliar dolar AS pada triwulan II-2026 menunjukkan bahwa investasi masuk tidak diiringi reinvestasi yang memadai, sehingga kepastian regulasi perizinan, lahan, dan komponen dalam negeri menjadi kunci bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan 8 persen.
Poin-Poin Utama
- Forum diskusi "Reclaiming Global Trust: Indonesia's Investment Agenda for a Volatile World" diselenggarakan Bank UOB Indonesia di Jakarta pada 15 September 2026.
- Enrico Tanuwijaya selaku ASEAN Economist UOB menyatakan ketidakpastian global saat ini masih tinggi.
- Federal Reserve dijadwalkan memutuskan arah suku bunga pada 17 September 2026.
- Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke level 3,5-3,75 persen.
- Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni 2026 ke level 5,75 persen.
- Selisih suku bunga antara AS dan Indonesia terpaut 200-225 basis poin.
- Alokasi Transfer ke Daerah dipangkas sejak 2025 dari Rp 919 triliun menjadi Rp 869 triliun.
- Pada 2026, alokasi Transfer ke Daerah kembali dipangkas menjadi Rp 693 triliun.
- Setiap triwulan, sebesar 9 miliar dolar AS dikembalikan ke negara asal dalam bentuk pembayaran dividen.
- Defisit neraca pendapatan primer Indonesia pada triwulan II-2026 sebesar 9,7 miliar dolar AS.
- Defisit neraca pendapatan primer triwulan sebelumnya tercatat 9,1 miliar dolar AS.
- Saribua Siahaan dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menyampaikan investasi menjadi kunci mencapai pertumbuhan 8 persen.
- Dua indikator utama yang diperhatikan investor adalah kebijakan dan lahan.
- Investor paling banyak mempertanyakan kepastian regulasi mengenai perizinan dan penggunaan lahan.
- Faktor lain yang dikeluhkan investor adalah implementasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.