Tiga Skenario Respons BI Versi Permata Institute
Kenaikan Fed Rate 25 basis poin ke 3,75-4 persen menyebabkan rupiah melemah ke Rp 17.763 per dolar AS. Permata Institute menyusun tiga skenario respons BI, dengan skenario pertama mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen jika harga minyak terus turun dan arus modal terkendali, serta skenario kedua menaikkan 25 basis poin menjadi 6,00 persen pada November atau Desember 2026.
Poin-Poin Utama
- The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3,75-4,00 persen pada 17 September 2026.
- Dolar AS mendominasi transaksi valas global dengan porsi lebih dari 88 persen.
- Rupiah bergerak ke Rp 17.763 per dolar AS, melemah 0,38 persen pada 17 September 2026.
- Secara year-to-date, rupiah melemah 6,49 persen.
- Bank Indonesia akan gelar rapat pada 22-23 September 2026.
- Suku bunga acuan BI saat ini berada di 5,75 persen.
- Proyeksi median suku bunga The Fed untuk akhir 2026 adalah 4,1 persen.
- Enam belas dari 18 anggota Komite Kebijakan Moneter The Fed memproyeksikan setidaknya satu kenaikan lagi pada 2026.
- Ketua The Fed Kevin Warsh menekankan keputusan berikutnya bergantung pada perkembangan inflasi dan ekonomi.
- Harga minyak mulai turun dan jalur distribusi minyak Saudi mulai dipulihkan.
- Josua Pardede menyatakan BI tidak perlu otomatis mengikuti kenaikan The Fed.
- Skenario dasar memproyeksikan The Fed naik 25 basis poin lagi menjadi 4,00-4,25 persen dengan BI mempertahankan 5,75 persen.
- Skenario kedua adalah BI naikkan 25 basis poin menjadi 6,00 persen pada November atau Desember 2026.
- Josua Pardede menyarankan intervensi valas dan pengelolaan imbal hasil lebih tepat digunakan terlebih dahulu.
- Permata Institute menyusun dua skenario utama dan satu skenario risiko ekstrem sebagai respons BI.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.