Adakah Musim Semi Penyintas Kekerasan Seksual?
Film "Empat Musim Pertiwi" karya Kamila Andini menggunakan pendekatan lambat dan penuh simbol untuk menyuarakan kenyataan kekerasan seksual yang kerap dilakukan oleh orang-orang terdekat, sekaligus mengkritik penanganan kasus kekerasan seksual di mana korban menghadapi pemeriksaan tidak simpatik dan penghakiman sosial yang cenderung menyalahkan korban. Melalui pengaburan batas kenyataan dan khayalan, film ini mempertanyakan siapa sebenarnya yang "gila" antara korban yang mengakui masalahnya atau kolektif warga yang memaklumi kekerasan terselubung.
Poin-Poin Utama
- Film Empat Musim Pertiwi disutradarai oleh Kamila Andini.
- Film ini dibintangi oleh Putri Marino yang berperan sebagai Pertiwi.
- Dwika Pradnyana berperan sebagai Kuntet, karakter yang distigma sebagai orang gila.
- Pertiwi pulang ke Bromo, Jawa Timur, setelah 20 tahun pergi.
- Adegan masa lampau disimbolkan melalui rekaman suara radio dan tayangan televisi tabung.
- Film ini menggabungkan genre drama, misteri, horor, menegangkan, dan komedi satir.
- Kekerasan seksual dalam film dilakukan oleh orang-orang terdekat korban.
- Perangkat cinematografi film memperlambat alur cerita untuk membangun ketegangan.
- Pertiwi melakukan sesuatu yang dianggap mengerikan ketika berusia 16 tahun.
- Kuntet dikucilkan oleh warga karena distigma sebagai orang gila.
- Korban kekerasan seksual sering menghadapi pertanyaan tidak simpatik saat melapor.
- Penghakiman sosial kerap menyalahkan korban atas perbuatannya.
- Kasus kekerasan seksual sering ditimpakan kesalahan pada alkohol atau konten pornografi.
- Film ini secara sengaja mengaburkan batas antara kenyataan dan khayalan.
- Kamila Andini menyampaikan kenyataan kekerasan seksual oleh orang terdekat melalui film ini.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.