Urban Farming di Bawah Naungan Becakayu: Beton di Atas, Hijau di Bawah
Petugas PPSU Fahturozih mengelola urban farming di lahan seluas 900 meter persegi di bawah Tol Becakayu, Duren Sawit, Jakarta Timur, sejak 2023 setelah pemerintah kecamatan meminta lahan kosong tersebut dimanfaatkan. Lahan yang awalnya berupa tanah merah tidak subur perlu dicampur dengan pupuk organik agar bisa ditanami berbagai sayuran seperti kangkung, pakcoy, tomat, melon, dan pisang. Meski menghadapi tantangan keterbatasan sinar matahari dan gangguan hama, hasil panen dibagikan kepada warga dan dijual melalui PKK Kelurahan serta Pasar Tumbuh.
Poin-Poin Utama
- Urban farming berada di bawah Tol Becakayu, RW 7, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.
- Lahan yang digunakan seluas sekitar 900 meter persegi.
- Lahan tersebut milik pihak terkait jalan tol, bukan milik kelurahan atau kecamatan.
- Urban farming dikelola oleh Fahturozih, petugas PPSU Jakarta yang dikenal sebagai pasukan oranye.
- Pengelolaan kebun dimulai pada tahun 2023 setelah kecamatan meminta lahan kosong dimanfaatkan.
- Sebelum ditanami, lahan didominasi tanah merah yang tidak subur dan ditumbuhi rumput liar.
- Tanah merah dicampur dengan pupuk organik dan kotoran kambing agar bisa ditanami.
- Bibit tanaman berasal dari kelurahan dan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian.
- Jenis tanaman yang dikembangkan meliputi pakcoy, kangkung, melon, tomat, kubis, kembang kol, dan pisang.
- Kendala utama menanam di bawah jalan tol adalah minimnya sinar matahari.
- Tanaman yang membutuhkan banyak sinar matahari ditanam di bagian pinggir.
- Kangkung dapat dipanen dalam waktu 27 hingga 30 hari setelah tanam.
- Panen terakhir menghasilkan sekitar 15 kilogram kangkung.
- Hasil panen dijual melalui PKK Kelurahan dan Pasar Tumbuh di lingkungan kantor wali kota.
- Hama menjadi persoalan utama dalam pengelolaan kebun aside from pencurian hasil panen.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh CNN.