Pemkot Jambi Luncurkan Urban Farming Agrobiopori, Solusi Pangan dan Sampah
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi meluncurkan program urban farming agrobiopori yang mengintegrasikan pertanian perkotaan dengan pengelolaan sampah organik melalui Lubang Resapan Biopori (LRB) untuk memperkuat ketahanan pangan dan kualitas lingkungan. Program ini menyasar optimalisasi lahan terbatas, pekarangan, dan ruang terbuka hijau, dengan budidaya sayuran, cabai, serta tanaman pangan menggunakan teknologi polybag dan hidroponik. Pemerintah Kota Jambi berharap inisiatif berbasis kolaborasi lintas sektor ini menjadi model urban farming yang inovatif, berkelanjutan, dan dapat direplikasi.
Poin-Poin Utama
- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi menginisiasi program urban farming agrobiopori.
- Program diresmikan dalam Rapat Koordinasi di Jambi pada hari Senin.
- Kota Jambi memiliki populasi sekitar 654.194 jiwa.
- Total lahan kota mencapai 1.332,60 hektare, terdiri dari 376,5 hektare ruang terbuka hijau dan 956,10 hektare lahan pertanian perkotaan.
- Produksi sampah Kota Jambi mencapai 445,78 ton per hari.
- Sampah organik akan diolah menjadi kompos untuk pertanian.
- Acara mencakup penyerahan alat dan mesin pertanian kepada kelompok tani.
- Dinas Pertanian menandatangani perjanjian implementasi Agrobiopori dengan Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
- Program memanfaatkan Lubang Resapan Biopori (LRB).
- Budidaya difokuskan pada sayuran, cabai, dan tanaman pangan.
- Teknologi yang digunakan mencakup polybag dan hidroponik.
- Program mencakup konservasi air melalui lubang biopori.
- Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi adalah Evridal Asri.
- Wali Kota Jambi adalah Maulana.
- Program bertujuan memperkuat ketahanan pangan, memperbaiki kualitas lingkungan, dan meningkatkan partisipasi warga.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.