Beranda Jumat, 25 September 2026

!online

Tekno Negatif

Dua Sisi Geologi Sulawesi: Berkah dan Musibah

Jumat, 25 September 2026, 09:14 WIB Sumber: Kompas
Ukuran:

Sulawesi memiliki kekayaan mineral besar seperti nikel, emas, dan kromit akibat posisi geologinya di pertemuan beberapa lempeng tektonik, namun keadaan yang sama juga menyebabkan kerentanan tinggi terhadap gempa bumi dan bencana hidrometeorologi. Kajian Celios dan Trend Asia menunjukkan bahwa Sulawesi telah melampaui batas daya dukung lingkungan hidup dengan skor 4,5 dari 5 pada 2024, sementara pemerintah tetap menerbitkan ratusan izin tambang baru di wilayah rawan bencana, sehingga risiko bencana berpotensi semakin meningkat.

Poin-Poin Utama

  • Sulawesi terletak di atas sejumlah sesar aktif dan memiliki topografi yang rawan bencana hidrometeorologi.
  • Kekayaan mineral Sulawesi meliputi nikel, emas, kromit, dan panas bumi yang terkait pertemuan beberapa lempeng kerak bumi.
  • Profesor Adi Maulana dari Universitas Hasanuddin menyatakan bahwa bagian barat Sulawesi didominasi batuan gunung api dan plutonik.
  • Batuan metamorf mendominasi bagian tengah Sulawesi, sedangkan batuan ofiolit tersebar luas di bagian timur dan tenggara.
  • Endapan nikel laterit yang sangat besar ditemukan di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan sebagian Sulawesi Selatan.
  • Sesar aktif yang memotong Sulawesi meliputi sistem Palu-Koro, Matano, dan Walanae.
  • Di bagian utara Sulawesi terdapat sistem subduksi Sulut dan berbagai zona deformasi aktif.
  • Celios mengungkap skor daya dukung Sulawesi mencapai 4,5 dari 5 pada 2024 yang menandakan melampaui batas D3TLH.
  • Kajian Celios menelusuri dampak pertambangan, perkebunan, smelter, PLTU captive, dan kawasan industri sepanjang 2014-2024.
  • Setiap enam menit, satu hektar ruang di Sulawesi berpindah kepada pemegang izin tambang.
  • Pada kondisi ekologi kritis, pemerintah tetap menerbitkan 277 izin tambang baru dengan luas konsesi 440.998 hektar.
  • Kajian Trend Asia mengidentifikasi 622.213 hektar PBPH yang 97 persen lokasinya berada di wilayah rawan bencana.
  • Izin PBPH dan IUP Nikel di Sulawesi berdasarkan peta wilayah rawan bencana berada pada kerentanan tinggi.
  • Regulasi belum secara otomatis menghentikan penerbitan izin baru meski status melampaui batas D3TLH telah tercapai.
  • Industri energi yang ekstraktif dan eksploitatif berpotensi meningkatkan tingkat risiko bencana di Sulawesi.
Tagar Terkait
#bencana alam#pertambangan nikel#geologi sulawesi#industri ekstraktif#kekayaan mineral#kerentanan bencana#daya dukung lingkungan
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.

Buka Sumber di Kompas

Warta Terkini Lainnya