WHO: Kolera, Demam Berdarah, dan Campak Meluas di Yaman
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan sistem kesehatan Yaman semakin mendekati titik kritis ketika konflik kembali meningkat dan tiga penyakit menular, yaitu kolera, demam berdarah dengue, dan campak, menyebar bersamaan dengan ribuan kasus dan kematian. Lebih dari satu dekade konflik telah melemahkan sistem kesehatan, diperparah oleh perpindahan penduduk dalam jumlah besar, buruknya sanitasi, dan keterbatasan air bersih yang menciptakan kondisi penyakit menular menyebar lebih cepat. Ribuan warga Yaman kini mengungsi ke Djibouti yang berpotensi menambah tekanan terhadap sistem kesehatan negara tersebut.
Poin-Poin Utama
- WHO memperingatkan sistem kesehatan Yaman mendekati titik kritis akibat konflik yang kembali meningkat.
- Tiga penyakit menular yakni kolera, demam berdarah dengue, dan campak menyebar bersamaan di Yaman.
- Lebih dari satu dekade konflik telah melemahkan sistem kesehatan Yaman.
- WHO mencatat 7.784 kasus suspek kolera atau diare berair akut dengan 22 kematian.
- Terdapat 9.604 kasus demam berdarah dengue dengan 37 kematian.
- Lebih dari 22 ribu kasus suspek campak dilaporkan sepanjang tahun ini dengan 128 kematian.
- WHO mencatat lebih dari 180.500 orang mengungsi di 10 provinsi akibat eskalasi konflik terbaru.
- Sejak 10 September, lebih dari 3.600 warga Yaman menyeberang menuju Djibouti.
- Hampir separuh warga Yaman yang menyeberang ke Djibouti adalah anak-anak.
- Mitra kemanusiaan mempersiapkan kedatangan sekitar 5.000 hingga 10.000 warga Yaman tambahan ke Djibouti.
- Djibouti menghadapi masalah malnutrisi, kolera, campak, dan malaria.
- PBB memperingatkan kepadatan di lokasi pengungsian meningkatkan risiko penyebaran kolera dan campak.
- Kondisi air tidak aman dan sanitasi buruk membuat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah semakin sulit dikendalikan.
- Sejak 6 Agustus, otoritas kesehatan Aden melaporkan 4.481 korban akibat eskalasi konflik.
- Annette Heinzelmann, Direktur Kedaruratan WHO untuk kawasan Mediterania Timur, menyampaikan peringatan di Jenewa pada 29 September 2026.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.