Kabut Asap Kian Memprihatinkan, Mahasiswa Tuntut Penanganan Karhutla Sumsel Lebih Optimal
Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan memicu krisis kesehatan dengan 40.555 kasus ISPA pada September 2026, didorong oleh rekor 3.059 titik panas dalam 24 jam dan total 27.861 titik sepanjang Januari hingga September 2026. Ratusan mahasiswa berunjuk rasa menuntut penanganan serius dari Gubernur Herman Deru dengan tenggat 5 x 24 jam, sementara Gubernur memastikan Satuan Tugas Karhutla bekerja maksimal menggunakan lima helikopter water bombing dan 66 kali operasi modifikasi cuaca, serta kepolisian menetapkan 39 tersangka dengan pendalaman keterlibatan korporasi.
Poin-Poin Utama
- Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan memicu krisis kesehatan dan melumpuhkan aktivitas publik.
- Ratusan mahasiswa berunjuk rasa di halaman Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Palembang, Senin (5/10/2026).
- Jumlah titik panas sempat menembus rekor 3.059 titik dalam 24 jam per awal Oktober 2026.
- Total titik panas sepanjang Januari-September 2026 mencapai 27.861 titik, melampaui keparahan karhutla tahun 2015.
- Wilayah terparah adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin.
- Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mencatat 40.555 kasus ISPA sepanjang September 2026.
- Sebanyak 9.671 korban ISPA merupakan anak balita.
- Kota Palembang mencatatkan 17.434 kasus ISPA pada September 2026.
- Krisis karhutla telah merenggut satu korban jiwa.
- Mahasiswa memberi tenggat 5 x 24 jam bagi Gubernur Herman Deru untuk menunjukkan penanganan serius.
- Bantuan presiden untuk penanganan karhutla meliputi Rp 30 miliar untuk provinsi dan Rp 20 miliar masing-masing untuk Ogan Komering Ilir serta Musi Banyuasin.
- Daerah juga menerima Rp 15 miliar masing-masing untuk Ogan Ilir dan Banyuasin.
- Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla mengoperasikan lima helikopter dengan tiga unit aktif water bombing.
- Operasi modifikasi cuaca telah dilaksanakan sebanyak 66 kali.
- Kepolisian menetapkan 39 orang sebagai tersangka karhutla dan mendalami keterlibatan sejumlah korporasi.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.