Beranda Rabu, 7 Oktober 2026

!online

Hukum Negatif

Rindu Padungku dan Kerikil Tajam Menjaga Damai di Poso

Rabu, 7 Oktober 2026, 17:11 WIB Sumber: Kompas Dibaca 9 kali
Ukuran:

Kedamaian yang baru pulih di Poso kembali diuji setelah Detasemen Khusus Antiteror 88 menangkap sebelas orang yang berkaitan dengan jaringan Jamaah Ansharit Daulah, sisa jaringan MIT pimpinan Santoso yang terus bergerak di Sulawesi Tengah. Tradisi Padungku, acara adat suku Pamona yang hilang selama konflik horizontal 1998-2001, perlahan kembali menumbuhkan silaturahmi antarsuku dan agama di tengah masyarakat. Kondisi ekonomi yang sulit serta trauma konflik masa lalu menjadikan warga rentan terhadap doktrin paham radikal yang disebarkan melalui media sosial dan jaringan bawah tanah kelompok teror.

Poin-Poin Utama

  • Poso, Sulawesi Tengah, menghadapi tantangan keamanan baru dengan penangkapan sejumlah terduga teroris.
  • Tradisi Padungku kembali diselenggarakan di beberapa daerah di Poso setelah lama vakum.
  • Padungku adalah acara adat setelah panen yang biasanya diadakan setahun sekali.
  • Tradisi Padungku dilakukan terutama oleh suku Pamona di Poso.
  • Dalam tradisi Padungku, warga saling mengunjungi tanpa memandang suku, agama, atau ras.
  • Menu paling khas Padungku adalah nasi jaha atau nasi bambu.
  • Nasi jaha terbuat dari beras ketan, jahe, dan santan yang dimasak dalam bambu berbalut daun pisang.
  • Tradisi Padungku menghilang selama konflik horizontal di Poso pada 1998 hingga 2001.
  • Pada 2 Oktober 2026, satu terduga teroris dibekuk di Poso dan dua lainnya ditangkap di Parigi Moutong.
  • Penangkapan di Sulawesi Tengah dilakukan bersamaan dengan operasi di enam provinsi lainnya.
  • Detasemen Khusus Antiteror 88 menangkap total 11 orang dalam operasi tersebut.
  • Para pelaku yang ditangkap merupakan jaringan Jamaah Ansharit Daulah.
  • Jamaah Ansharit Daulah merupakan sisa jaringan Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso.
  • Para terduga teroris memiliki peran bervariasi, mulai dari konsolidasi jaringan, pelatihan, propaganda, hingga perekrutan.
  • Pada Mei 2005, bom meledak di Pasar Tventa, Poso, menewaskan 22 orang.
Tagar Terkait
#sulawesi tengah#terorisme#densus 88#poso#radikalisme#mujahidin indonesia timur#padungku#jamaah ansharut daulah
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.

Buka Sumber di Kompas

Warta Terkini Lainnya