Menkeu sebut Spread obligasi RI berhasil ditekan hingga level 188 bps
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan spread obligasi Indonesia berhasil ditekan hingga level 188 basis points per 7 Oktober 2026, menurun signifikan dibandingkan 1.000 basis points pada tahun 2003. Penurunan ini menunjukkan membaiknya fundamental ekonomi makro dan meningkatnya kredibilitas pengelolaan perekonomian Indonesia di mata investor global. Suahasil menekankan bahwa kunci keberhasilan tersebut adalah transparansi, komunikasi berkelanjutan, serta pengelolaan APBN yang bermanfaat bagi negara.
Poin-Poin Utama
- Spread obligasi Indonesia berhasil ditekan hingga level 188 basis points per 7 Oktober 2026.
- Menkeu Suahasil Nazara menyampaikan hal tersebut dalam agenda Investor Daily Summit 2026 di Jakarta.
- Dahulu Indonesia harus memberikan spread sebesar 400 hingga 500 basis points.
- Suku bunga Amerika Serikat berada pada level 5,28 persen, menjadi yang tertinggi dalam 23 tahun terakhir.
- Kondisi bunga tinggi di Amerika Serikat memicu penarikan kembali modal global ke negara tersebut.
- Pada tahun 2003 Indonesia harus memberikan spread obligasi sebesar 1.000 basis points di atas suku bunga Amerika Serikat.
- Jika bunga Amerika Serikat saat itu 4 persen, Indonesia harus memberikan bunga 12 persen.
- Krisis keuangan global tahun 2009 memaksa lonjakan spread yang memperberat beban biaya bunga anggaran negara.
- Selisih imbal hasil yang ditawarkan Indonesia mengalami penurunan secara konsisten.
- Indonesia berhasil menjaga capital inflow dengan spread yang lebih kecil.
- Spread Indonesia sebesar 188 basis points lebih rendah dibandingkan India, Filipina, Afrika Selatan, Meksiko, dan Brasil.
- Menkeu menyatakan kredibilitas merupakan kunci dalam pengelolaan perekonomian.
- Kredibilitas berarti transparansi dan komunikasi yang terus dilakukan.
- APBN harus dikelola agar bermanfaat bagi masyarakat.
- Fundamental kepercayaan kepada pengelolaan ekonomi makro Indonesia semakin solid.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Antara News.