Mesir, di Antara Washington dan Beijing
Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Kairo pada 1 September 2026 menandai 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara serta menghasilkan kerja sama di bidang teknologi, keamanan, militer, perdagangan, dan ekonomi, termasuk perluasan zona ekonomi China-Mesir di Suez dan keterkaitan Inisiatif Sabuk dan Jalan dengan Visi Mesir 2030. Kemitraan ini saling menguntungkan karena Mesir menjadi pintu masuk strategis produk China sekaligus jalur penting ekspor melalui Terusan Suez, sementara bagi China menjadi mitra alternatif bagi Mesir tanpa harus meninggalkan hubungan erat dengan Amerika Serikat. Kunjungan tersebut menegaskan politik luar negeri kesetimbangan strategis Mesir, yaitu menjaga hubungan dekat dengan berbagai kekuatan besar secara pragmatis agar keamanan terjaga dan ekonomi tetap tumbuh.
Poin-Poin Utama
- Presiden China Xi Jinping mengunjungi Mesir pada Selasa (1/9/2026).
- Kunjungan Xi menandai 70 tahun hubungan diplomatik China-Mesir.
- Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi menyambut kedatangan Xi di Kairo.
- Kedua negara menandatangani kerja sama di bidang teknologi, keamanan, militer, perdagangan, dan ekonomi.
- Mesir menjadi pintu masuk dan pijakan strategis bagi ekspor produk China.
- Kedua negara sepakat memperluas zona ekonomi China-Mesir di Suez.
- Inisiatif Sabuk dan Jalan China akan dihubungkan lebih erat dengan Visi Mesir 2030.
- Mesir menjadi sumber investasi, teknologi, dan perdagangan dari China.
- China menjadi mitra alternatif bagi Mesir di samping Amerika Serikat.
- Mesir dan China menggelar latihan militer bersama dua bulan sebelum kunjungan Xi.
- Terusan Suez merupakan jalur penting bagi ekspor-impor China.
- Ketidakstabilan Selat Hormuz akibat perang AS-Iran meningkatkan peran strategis Terusan Suez bagi Beijing.
- Mesir menjalankan politik luar negeri 'kesetimbangan strategis' (strategic equilibrium).
- Prinsip kesetimbangan strategis memungkinkan Mesir berhubungan dekat dengan kekuatan manapun tanpa meniadakan hubungan lain.
- Persaingan kekuatan global mendorong negara-negara menengah seperti Mesir untuk bersikap pragmatis.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.