Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Penerbangan Netral

Pakar: Perkembangan Erupsi Dinamis, Situasi Penerbangan Tidak Dapat Diprediksi

Senin, 7 September 2026, 11:41 WIB Sumber: Kompas
Ukuran:

Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada pembatalan 243 penerbangan dan 29.619 penumpang di Bandara Soekarno-Hatta, dengan AirNav Indonesia memperpanjang penutupan tujuh bandara hingga Senin pukul 18.00 WIB. Pakar penerbangan Alvin Lie menjelaskan bahwa situasi penerbangan sulit diprediksi karena dinamika erupsi vulkanik, arah angin, serta ketinggian kolom abu yang mencapai 50.000 kaki. Pemulihan penerbangan juga membutuhkan waktu lama karena pesawat harus dibersihkan dari abu vulkanik yang merusak aerodinamik, mesin, dan sensor pesawat, sehingga penutupan bandara berpotensi lebih panjang jika erupsi berlanjut.

Poin-Poin Utama

  • Gunung Anak Krakatau erupsi berdampak pada pembatalan ratusan penerbangan dan puluhan ribu penumpang.
  • AirNav Indonesia memperpanjang penutupan tujuh bandara hingga Senin (7/9/2026) pukul 18.00 WIB.
  • Tujuh bandara ditutup: Soekarno-Hatta (Banten), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Radin Inten II (Lampung), Husein Sastranegara (Bandung), Muhammad Taufiq Kiemas (Lampung), Pondok Cabe (Banten), Budiarto (Banten).
  • Bandara Pagar Alam/Atung Bungsu, Sumatera Selatan sudah kembali dibuka sejak pukul 08.12 WIB.
  • Bandara Soekarno-Hatta per Senin (7/9) hingga pukul 06.30 WIB mencatat 243 penerbangan terdampak.
  • 243 penerbangan terdampak terdiri dari 184 domestik, 54 internasional, dan 5 kargo.
  • Total 29.619 penumpang terdampak di Bandara Soekarno-Hatta per Senin (7/9) pukul 06.30 WIB.
  • Data 29.619 penumpang belum memperhitungkan akumulasi dampak dari bandara lain.
  • Kawasan Banten, Jawa Barat hingga perbatasan Jawa Tengah masih dihindari berbagai penerbangan.
  • Ketinggian kolom erupsi Gunung Anak Krakatau mencapai hingga 50.000 kaki berdasarkan NOTAM AirNav Indonesia.
  • Ketinggian kolom di atas 20.000 kaki memengaruhi kinerja pesawat di ketinggian jelajah 30.000–40.000 kaki.
  • Abu vulkanik berpotensi merusak turbin mesin jet, menutup sensor termasuk tabung pitot, dan mengganggu aerodinamik.
  • Abu vulkanik bersifat panas dan tajam, dapat meleleh mengganggu sistem kendali pesawat serta merusak kaca kokpit.
  • Pemulihan penerbangan memerlukan pembersihan landasan pacu, taxiway, rumput, serta penutupan mesin dan sensor pesawat.
  • Alvin Lie, Ketua Umum Apjapi, menyatakan penutupan bandara berpotensi lebih panjang tergantung dinamika erupsi dan sebaran abu.
Tagar Terkait
#abu vulkanik#bandara soekarno-hatta#penerbangan#erupsi gunung anak krakatau#airnav indonesia#keselamatan penerbangan
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.

Buka Sumber di Kompas

Warta Terkini Lainnya