Wawancara 'King of Krakatoa' Prof Tukirin: Gunung Ini Mengajarkan Suksesi Kehidupan
Prof Tukirin Partomihardjo, peneliti BRIN yang dijuluki 'King of Krakatau', telah meneliti lingkungan Krakatau lebih dari 30 tahun. Setelah erupsi dan tsunami 2018, seluruh kehidupan di sana lenyap dan pemulihan dimulai dari nol, dengan laba-laba sebagai hewan perintis dan lumut sebagai tumbuhan pertama yang muncul. Keunikan lain termasuk kehadiran tumbuhan yang tersebar karena campur tangan manusia, seperti pisang, durian, dan rumput dari Jawa yang terbawa celana pengunjung.
Poin-Poin Utama
- Prof Tukirin Partomihardjo diteliti Krakatau lebih dari 30 tahun sejak pertama kali pada 1981.
- Tinggi anak Krakatau di awal 1980an sekitar 150-200 mdpl, naik jadi 300 mdpl sebelum tsunami 2018, turun lagi ke 150 mdpl setelah erupsi dan longsoran 2018.
- Vegetasi Rakata seluas 17 persen hilang total akibat erupsi 2018.
- Setelah erupsi 2018, tidak ada kehidupan apapun tersisa di kawasan tersebut.
- Laba-laba tercatat sebagai kandidat hewan pertama yang muncul kembali pascaerupsi berdasarkan literatur terdahulu.
- Lumut tercatat sebagai kandidat tumbuhan pertama pascaerupsi karena mampu hidup di kondisi tanah ekstrim.
- Sumber lumut berasal dari udara, angin, atau arus laut.
- Enam bulan setelah longsoran 2018, Prof Tukirin menemukan daun kecil dan biji kelapa mulai berkembang di sekitar Krakatau-Rakata.
- Prof Tukirin terakhir mengunjungi Rakata pada 2018 setelah tsunami.
- Prof Tukirin adalah peneliti LIPI (kini BRIN) yang fokus pada riset lingkungan hidup Krakatau.
- Prof Tukirin memantau situasi Krakatau melalui BKSDA Banten.
- Kunjungan terakhir ke Pulau Sertung menemukan kebun pisang luas, pohon durian, jeruk, jambu biji, dan nangka.
- Tumbuhan di jalur trek wisata Krakatau termasuk rumput khas dari satu daerah di Jawa, kemungkinan terbawa lipatan celana pengunjung.
- Tomat dan cabai merah ditemukan di Krakatau, kemungkinan berasal dari aktivitas memasak nelayan.
- Republika mewawancara Prof Tukirin pada Senin, 7 September 2026.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.