Tiga Dampak Permanen Perang AS-Iran terhadap Ekonomi Global
Iran meninggalkan tiga dampak permanen bagi ekonomi global: Iran menguasai Selat Hormuz dengan membentuk otoritas yang memungut biaya tol bagi kapal yang melintas, Tiongkok menunjukkan ketahanan energi dengan memangkas impor minyak hingga 5 juta barel per hari serta mempercepat adopsi kendaraan listrik, dan negara-negara di luar Timur Tengah seperti Brasil, Guyana, Kanada, serta Norwegia meningkatkan produksi sehingga mengancam posisi OPEC dan berpotensi menciptakan kelebihan pasokan minyak global.
Poin-Poin Utama
- AS harga bahan bakar bertahan di atas US$4 selama berminggu-minggu.
- Suku bunga KPR di AS melonjak mendekati 7%.
- Selat Hormuz menjadi jalur yang dikendalikan penuh oleh Iran setelah serangan AS-Israel pada akhir Februari.
- Iran menutup Selat Hormuz dan memutus pasokan 13 juta barel minyak.
- Iran membentuk Persian Gulf Strait Authority pada Mei, mewajibkan pendaftaran, jalur resmi, dan biaya tol kapal.
- Tiongkok memangkas impor minyak mentah hingga 5 juta barel per hari menggunakan cadangan pra-perang.
- Penggisian daya EV di jalan raya Tiongkok melonjak 55,6% selama libur Mei dibanding tahun sebelumnya.
- Hampir seperempat mobil yang melintas di jalan raya Tiongkok merupakan kendaraan listrik.
- JPMorgan: dari 1,9 miliar barel minyak Timur Tengah yang hilang, 800 juta barel diserap penurunan konsumsi.
- Brasil menambah output 800.000 barel per hari, Guyana 300.000, Kanada 200.000, Norwegia 150.000.
- AS memproduksi 900.000 barel lebih banyak dibanding periode sama tahun lalu.
- Emirat Arab mengundurkan diri dari OPEC pada April.
- Irak mempertimbangkan keluar dari OPEC kecuali target produksinya dinaikkan menjadi 5–7 juta barel per hari.
- Arab Saudi memaksimalkan pipa East-West dan konvoi truk ke Laut Merah.
- Irak bernegosiasi dengan Chevron membangun pipa ke Laut Mediterania.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.