B50 Jadi Modal Indonesia Bangun Ekosistem Transisi Energi
Anggota Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menilai perjalanan panjang pengembangan biodiesel Indonesia hingga implementasi B50 menjadi modal penting bagi pembangunan ekosistem transisi energi nasional, seiring peluncuran buku Transisi Energi di Universitas Sahid Jakarta. PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapan penyaluran B50 secara nasional telah mencapai lebih dari 90 persen pada awal September 2026 dan ditargetkan berjalan penuh di seluruh SPBU pada 1 Oktober 2026. Pemerintah memproyeksikan implementasi B50 dapat menghemat devisa hingga Rp170 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi CO₂ hingga 44,46 juta ton.
Poin-Poin Utama
- Bambang Patijaya, anggota Komisi XII DPR RI, menyatakan pengembangan B50 menjadi modal penting bagi ekosistem transisi energi nasional.
- PT Pertamina (Persero) melaporkan penyaluran B50 secara nasional telah mencapai lebih dari 90 persen pada awal September 2026.
- Penyaluran penuh B50 ditargetkan tercapai pada 1 Oktober 2026.
- Pemerintah secara resmi menerapkan mandatori biodiesel B50 pada Juli 2026.
- B50 menggunakan campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dan 50 persen solar.
- Program biodiesel nasional dimulai sejak 2008 melalui tahapan B20, B30, B35, B40, dan berlanjut ke B50.
- Pemerintah memproyeksikan B50 menghemat devisa hingga Rp170 triliun.
- Implementasi B50 diproyeksikan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
- B50 diproyeksikan menurunkan emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton.
- Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyebut infrastruktur untuk penyaluran B50 siap tanpa kendala.
- Pertamina mencatat penyaluran B50 secara nasional mencapai sekitar 80 persen hingga akhir Agustus 2026.
- Kementerian ESDM mencatat penyaluran B50 berada di kisaran 75–80 persen per 31 Agustus 2026.
- Kementerian ESDM menargetkan penyaluran 100 persen di seluruh SPBU pada 1 Oktober 2026.
- Kementerian ESDM memperkirakan implementasi B50 pada 2026 menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 44,46 juta ton CO₂ ekuivalen.
- Pernyataan Bambang disampaikan dalam peluncuran buku Transisi Energi di Kampus Universitas Sahid, Jakarta, pada Jumat (4/9/2026).
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.