Harga Minyak Tembus US$100, Purbaya: Kita tidak akan Terlalu Kaget
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah tidak akan terlalu kaget dengan kenaikan harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel pada September 2026 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, karena kenaikan tersebut sudah masuk dalam skenario perhitungan stimulus semester II 2026. Pemerintah akan terus memantau perkembangan konflik dan melakukan simulasi terhadap berbagai skenario harga minyak untuk menjaga kesinambungan anggaran, termasuk menjaga subsidi BBM. Di tengah situasi tersebut, kebijakan biodiesel B50 dinilai strategis karena berpotensi menghemat devisa hingga Rp170 triliun dan mengurangi sensitivitas Indonesia terhadap fluktuasi harga minyak dunia.
Poin-Poin Utama
- Harga minyak dunia tembus US$100 per barel pada September 2026.
- Minyak Brent naik 2,3% ke level US$100 per barel.
- Minyak WTI naik 1,3% ke posisi US$94 per barel.
- Menaikan harga picu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
- Menkeu Purbaya pastikan pemerintah jaga kesinambungan anggaran.
- Pemerintah punya pengalaman hadapi gejolak harga komoditas.
- Stimulus semester II 2026 rancang dengan asumsi harga minyak US$100 per barel.
- Presiden Prabowo minta simulasi dampak kenaikan harga minyak.
- ICP semester I 2026 capai US$91,87 per barel per 31 Mei 2026.
- ICP naik US$21,87 dari asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel.
- Implementasi B50 diproyeksi kurangi impor solar 18 juta kiloliter.
- B50 diproyeksi hemat devisa Rp170 triliun.
- B50 dinilai strategis perkuat neraca pembayaran.
- Kadin Indonesia Institute sebut B50 sebagai transformasi industri.
- BBM bersubsidi akan tetap dijaga pemerintah.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.