Penjelasan Pakar Penyebab Pikiran Negatif Sulit Hilang di Kepala
Studi dari Tilburg University dan KU Leuven menunjukkan bahwa pikiran negatif sulit hilang karena adanya hubungan dua arah antara pikiran dan emosi, di mana kesulitan melepaskan penafsiran negatif memperburuk suasana hati, dan suasana hati yang buruk justru mempertahankan asumsi negatif, terutama pada individu dengan gejala depresi dan kecemasan sosial tinggi. Kebiasaan ruminasi memperkuat siklus ini sehingga pikiran negatif makin mengkristal. Penelitian ini menekankan pentingnya fleksibilitas berpikir, pengelolaan emosi, dan mengurangi ruminasi sebagai strategi utama, meskipun masih diperlukan riset lanjutan untuk menguji efektivitas intervensi klinisnya.
Poin-Poin Utama
- Studi dipimpin Lisa M. W. Vos bersama Jonas Everaert, Ph.D., dari Tilburg University dan KU Leuven.
- Riset melibatkan 179 orang dewasa dengan tingkat gejala depresi dan kecemasan beragam.
- Studi berlangsung selama 14 hari dengan pemantauan enam kali sehari.
- Partisipan dengan gejala depresi dan kecemasan sosial tinggi paling sulit melepaskan penafsiran negatif.
- Penelitian menemukan hubungan dua arah kuat antara pikiran negatif dan emosi negatif.
- Kesulitan melepaskan penafsiran negatif memicu lonjakan emosi negatif.
- Mood memburuk membuat seseorang makin kukuh mempertahankan asumsi negatif pada situasi ambigu.
- Kebiasaan ruminasi memperkuat siklus pikiran negatif.
- Jonas Everaert, Ph.D., menjabat Asisten Profesor Psikologi Klinis Tilburg University.
- Temuan menekankan pentingnya fleksibilitas berpikir, bukan sekadar berpikir positif.
- Strategi pengelolaan mencakup mengurangi tekanan, menghentikan ruminasi, dan mencari dukungan sosial.
- Mengalihkan perhatian ke pengalaman positif dinilai membantu berpikir lebih fleksibel.
- Pesan singkat tak dibalas lalu aktivitas teman terlihat di media sosial menjadi contoh pemicu asumsi negatif.
- Studi masih memetakan hubungan antarproses psikologis dan memerlukan riset lanjutan.
- Riset lanjutan dibutuhkan untuk menguji efektivitas strategi intervensi klinis.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.