Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Kesehatan Netral

Dokter: Waspadai Dampak Abu Vulkanik Meski Erupsi Telah Usai

Selasa, 8 September 2026, 12:08 WIB Sumber: Republika
Ukuran:

Dokter Spesialis Penyakit Dalam PAPDI, Sukamto Koesnoe, mengingatkan masyarakat agar tetap mewaspadai dampak abu vulkanik meski erupsi telah selesai, karena partikel halus PM10 dan PM2.5 yang tajam serta mengandung silika dapat terhirup dan mengganggu saluran pernapas, menyerang penderita penyakit paru kronik, serta berdampak pada mata, kulit, pencernaan, dan jantung selama abu masih menumpuk di lingkungan. Ia menekankan pentingnya penggunaan masker N95/KN95/FFP2 yang rapat, memperbarui vaksinasi influenza dan pneumokokus bagi pasien paru kronik serta lansia, serta segera ke fasilitas kesehatan bila muncul gejala sesak memberat, nyeri dada, atau gangguan mata. Pada pengguna lensa kontak, disarankan beralih sementara ke kacamata guna menghindari risiko lecet pada kornea.

Poin-Poin Utama

  • PAPDI minta masyarakat waspadai dampak abu vulkanik meski erupsi sudah berakhir.
  • Risiko paparan abu dapat berlanjut berhari-hari hingga berminggu-minggu hingga bersih atau tersapu hujan.
  • Abu vulkanik mengandung partikel tajam, bersudut, silika, serta PM10 dan PM2.5.
  • Partikel dapat terhirup hingga saluran napas bawah dan alveolus.
  • Gangguan saluran napas meliputi iritasi hidung, tenggorokan kering dan nyeri, batuk kering, sesak, serta dada terasa berat.
  • Penderita asma, PPOK, bronkitis kronik, dan rinitis alergi rentan mengalami serangan atau eksaserbasi akibat paparan abu.
  • Paparan dapat melemahkan pertahanan lokal saluran napas dan meningkatkan risiko infeksi saluran napas akut.
  • Dokter menyarankan pasien penyakit paru kronik dan lansia memperbarui vaksinasi influenza serta pneumokokus.
  • Dampak pada mata meliputi iritasi, mata merah, konjungtivitis, hingga lecet kornea.
  • Pengguna lensa kontak diminta beralih sementara ke kacamata.
  • Dampak pada kulit berupa iritasi, gatal, dan dermatitis, terutama bila abu bersifat asam atau tercampur keringat.
  • Abu yang mencemari makanan atau air minum tidak terlindungi dapat mengganggu saluran pencernaan.
  • PM2.5 dari abu vulkanik berisiko memperburuk kondisi penderita penyakit jantung.
  • Silikosis disebut sebagai risiko jangka panjang dari paparan berulang bertahun-tahun.
  • Masker N95, KN95, atau FFP2 direkomendasikan dengan syarat terpasang rapat tanpa celah di hidung dan pipi.
Tagar Terkait
#gunung anak krakatau#abu vulkanik#erupsi#kesehatan#papdi#sukamto koesnoe
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.

Buka Sumber di Republika

Warta Terkini Lainnya