Salah Satu Cara Ampuh Salahuddin Al-Ayyubi Pertahankan Stabilitas Dinasti Ayyubiyah
temurun, melainkan hak memungut pajak dengan kewajiban menjalankan tugas sipil dan militer. Salahuddin al-Ayyubi menerapkan sistem ini dengan membagikan tanah di Mesir kepada keluarga serta para amir dan panglima militernya, seperti ayahnya Najmuddin yang mendapat Alexandria, Damietta, dan al-Buhairah. Menurut al-Maqrizi, sejak masa Salahuddin seluruh tanah di Mesir pada dasarnya terbagi menjadi iqtha untuk sultan, amir, dan pasukan mereka.
Poin-Poin Utama
- Sistem iqtha pada Dinasti Ayyubiyah diberikan sebagai imbalan atas jasa dan pengabdian militer.
- Iqtha bukan hak kepemilikan tanah yang turun-temurun bagi penerimanya.
- Penerima iqtha berhak memungut pajak tertentu untuk dirinya dan prajuritnya.
- Penerima iqtha berkewajiban menjalankan tugas sipil dan militer yang ditetapkan.
- Salahuddin al-Ayyubi menerapkan sistem iqtha dengan membagikan tanah di Mesir.
- Sebagian iqtha diberikan kepada anggota keluarga Salahuddin, sebagian kepada para amir dan panglima militer.
- Ayah Salahuddin, Najmuddin, menerima iqtha berupa wilayah Alexandria, Damietta, dan al-Buhairah.
- Saudara Salahuddin, Syamsuddin Turansyah, memperoleh Qush, Aswan, dan Aydhab.
- Sumber penjelasan sistem iqtha berasal dari Dr Ali Muhammad ash-Shallabi, Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Sedunia.
- Keterangan al-Maqrizi dalam kitab al-Khithath menyebut seluruh tanah di Mesir terbagi dalam iqtha.
- Pembagian iqtha mencakup tanah untuk sultan, para amir, dan pasukan mereka.
- Periode pembagian iqtha berlangsung sejak masa Salahuddin Yusuf bin Ayyub hingga masa al-Maqrizi.
- Rujukan al-Khithath yang dikutip berada pada volume 1 halaman 97.
- Informasi dipublikasikan oleh Republika.co.id dengan kantor berita Jakarta.
- Tanngal publikasi artikel tercatat pada Selasa, 8 September 2026.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.